Sejuta Sejarah dalam Sepotong Hati Yang Baru

Kembali memulai resolusi 2015, yakni update blog. Sebenarnya bingung mau nulis apa *doh* tapi yang namanya resolusi akan tetap ‘mandeg’ kalau tidak dipaksa. Ya semacam kata Dee (lagi-lagi dia disebut hehe) bagaimana cara menulis? ya mulai dengan menulis apa saja. Lanjutnya, menulis apa yang ingin dibaca. Nahlo, ya supaya saya punya sedikit karya–duileh–hihi mari kita mulai dengan [bukan] resensi buku. ๐Ÿ˜ณ Salah satu alasan lain kenapa saya memilih untuk mulai menulis [bukan] resensi adalah karena saya sering pengen nyari review dari suatu produk dalam hal ini buku atau film, tapi saya pengennya yang personal gitu tulisannya. Yang tulisan macam curhatan kayak blog ini hahahaha. Soalnya sering kali saya terjebak dalam review yang terlalu ‘kaku’. Saya pengen mendapat sisi lain dari sebuah ulasan, makanya saya mulai dari diri sendiri yeaayyyy. Semoga kelaksana dengan baik ya. Amin. Hmmm pertama saya ingin mengenalkan *halah* bahwa dua penulis yang menurut saya cukup produktif plus karyanya gak monoton dan cukup aku banget adalah Dewi Lestari dan Tere Liye. Ya keduanya seperti tidak kering ide (sejauh ini sih). Masih bisa membuat karya yang tidak mudah ditebak. Karena saya tipe orang yang labil. Dengan selera buku yang harus sesuai mood. hahaha. Kadang bisa sangat kekanak-kanakan (nanti akan saya ceritakan jenis buku apa ini ๐Ÿ˜› ) juga melankolis, bahkan sok diplomatis. Lhah malah nglantur kan. Oke kembali ke topik. sepotong hati yang baru- Tere LiyeBuku yang cukup menarik itu adalah Sepotong Hati Yang Baru karya Tere Liye. Pas pertama tahu judulnya, saya pikir buku ini akan mengulas kisah termehek-mehek ala chicklit atau teenlit gitu. Tapiiii, justru beda jauh. Ya masih dapet sih termehek-meheknya, tapi justru oleh kisah-kisah dewasa nan filosifis. Salah satunya dalam legenda Ramayana yang dikemas apik dalam salah satu judul “Percayakah Kau Padaku?”. Mungkin psikologis saya sedang lebay maksimal sehingga mengaharu biru tatkala menyimak kisah ini. Telah lama sebenernya saya ingin mengetahui potongan sejarah ini, tapi tak menemukan cara yang pas. Nonton wayang tidak kuat melek semalam suntuk -_- Baca kitab, pinjem ke sapa coba, trus sapa yang mau transletin sansekertanya. Nonton sinetronnya? Aduh ratusan episode. Bukan. Bukan karena tipi saya memutar versi klasiknya Mahabaratha. Bukan pula tipi tetangga yang hectic dengan versi modernnya. Yang terlalu mainstream dan bikin illfeel saat saya lihat suatu konser bertajuk film itu dan mendapati salah satu aktornya fals waktu nyanyi india T.T Karena buku ini pulalah saya jadi googling sana sini untuk mengetahui versi asli legenda Ramayana. Yang ternyata juga banyak versi. Yakni versi jawa Kuno Kakawin dan versi Prosa dari eposnya Walmiki selengkapnya di sini. Nah kalau kamu tertarik untuk mendapatkan kisah-kisah yang tak biasa, buku Tere Liye yang satu ini bisa menjadi salah satu alternatif. Karena selain asyik mendapat bacaan baru, kamu secara tidak langsung akan mendapat sejarah yang barang kali tidak bisa kamu serap dengan apik ketika di sekolah ๐Ÿ˜€ Selain cerita turun temurun ini, ada juga kisah lain seperti Sampek-engtai, kisah penjajahan era Belanda, pun cerita nikah foto yang marak di belahan Kalimantan. Buku Sepotong Hati Yang Baru ini mirip lah dengan buku Adriana dari fajar Nugros. Kamu gak akan merasa digurui malah penasaran. Saya sih ngerasanya gitu :mrgreen: Oke cusss langsung baca sendiri ya. Dan rasakan sensasinya. Halah. ๐Ÿ˜€ :mrgreen:

Advertisements