Hujan. Rindu. Aku

Kemarin hujan turun buk

sore, selepas aku meneleponmu

Pagi ini hujan masih turun buk

seperti menumpahkan rinduku

yang kemarin belum habis

Kemarin, hari ini, esok

rasanya akan sama saja.

bertelepon, bertukar gambar

tak menebang kangen, di pucuk-pucuk jati yang meranggas menggugurkan dirinya-sendiri

Lusa akan berbeda

bila aku denganmu buk

Aku akan pulang…walau kemudian sibuk dengan urusanku

lalu pergi dengan lupa menghitung ubanmu seperti yang kuikrarkan

Hujan

Jika pergi tak menjanjikan pulang, kenapa pisah tak mengingkari rindu?

 

Lalu hujan jatuh lagi,

kali ini bukan hujan langit…

Advertisements

Merindukan Pulang

1555489_10201897214389265_2553377637099747671_nAku menatap nanar di dua angka yang menyala lain warna
Dia seperti diam dan mengejekku dengan bahasa yang tak
kumengerti
Atau aku yang sedang angkat senjata menyerapahi
kediamanku
Bagai pendosa yang pengakuannya tak mengubah apa-apa
Layaknya cinta, ada kerinduan yang tak bisa kau
sampaikan hanya dengan kata-kata
Kau butuh raga yang hadir bukan dengan segenggam logam
yang kau hargai dengan pulsa
Ku tatap lagi dua angka itu, di sana dia masih menyala
Kuraba lagi bagian tubuh mana yang sakit
Tak ada
Hanya nyeri yang muncul entah dari mana
Lalu kutulis sebaris, nyeri itu nyata,

Merindukan P.U.L.A.N.G

25 maret 2016