Hujan. Rindu. Aku

Kemarin hujan turun buk

sore, selepas aku meneleponmu

Pagi ini hujan masih turun buk

seperti menumpahkan rinduku

yang kemarin belum habis

Kemarin, hari ini, esok

rasanya akan sama saja.

bertelepon, bertukar gambar

tak menebang kangen, di pucuk-pucuk jati yang meranggas menggugurkan dirinya-sendiri

Lusa akan berbeda

bila aku denganmu buk

Aku akan pulang…walau kemudian sibuk dengan urusanku

lalu pergi dengan lupa menghitung ubanmu seperti yang kuikrarkan

Hujan

Jika pergi tak menjanjikan pulang, kenapa pisah tak mengingkari rindu?

 

Lalu hujan jatuh lagi,

kali ini bukan hujan langit…

Merindukan Pulang

1555489_10201897214389265_2553377637099747671_nAku menatap nanar di dua angka yang menyala lain warna
Dia seperti diam dan mengejekku dengan bahasa yang tak
kumengerti
Atau aku yang sedang angkat senjata menyerapahi
kediamanku
Bagai pendosa yang pengakuannya tak mengubah apa-apa
Layaknya cinta, ada kerinduan yang tak bisa kau
sampaikan hanya dengan kata-kata
Kau butuh raga yang hadir bukan dengan segenggam logam
yang kau hargai dengan pulsa
Ku tatap lagi dua angka itu, di sana dia masih menyala
Kuraba lagi bagian tubuh mana yang sakit
Tak ada
Hanya nyeri yang muncul entah dari mana
Lalu kutulis sebaris, nyeri itu nyata,

Merindukan P.U.L.A.N.G

25 maret 2016

HOME

…….

Another summer day

Has come and gone away

In Paris and Rome

But I wanna go home

Maybe surrounded by

A million people I

Still feel all alone

I just wanna go home

Oh I miss you, you know

…….

Michael Bublle-Home

Hujan sudah reda sejak jarum jam menunjuk angka lima, akhirnya kita bisa melihat bulan yang sama. Di bawah atap yang sama. Ditemani secangkir kopi susu dan susu jahe. Berharap kehangatan masih sama seperti masa masa sebelumnya. Diganjal nasi goreng berlumur saos tomat berlebih dan kau bilang tak enak, tapi bagiku ini terasa lengkap dengan celoteh random dari mulut kita. Kalian selalu tahu cara membuat angin terasa mencubit dan sedetik membelai kerinduan yang terpendam.

Ah waktu terasa selalu cepat, selalu kurang saat aku bersama kalian. Rasanya, langit mendadak mendung dan grimis akan turun. Ya gerimis itu benar benar turun saat roda kendara menjauh, suara Michael Buble tiba-tiba menjadi soundtrack yang membuat gerimis ini benar-benar meleleh dari kedua bola mata.

Seperti terputar kembali kalaedoskop saat pertama aku mengenal kalian, pertama kali berselang pendapat dengan kalian, pertama kali menghitung receh yang tertinggal di saku celana, dan berulang kali merasa orang paling sibuk sedunia. Ah mungkin terlalu berlebihan.

HOME

Kita…

Tidak lahir dari rahim yang sama, kita tidak belajar berjalan di latar yang sama, kita hanya pernah mengeja kata sahabat bersama, tapi rasanya udara kehabisan oksigen saat kudengar kalian akan jauh di sana.

Sebenarnya aku bahagia melihat kalian menari di tanah yang berbeda, tapi aku hanya akan merindukan rumahku. Ya, kalian rumah itu. Rumah yang selama ini tempat aku berteduh saat dingin, saat hujan lama tak menampakkan pelangi, saat es krim cepat meleleh dipapar matahari. Rumah yang setiap sudutnya mampu bercerita. Rumah yang diam diam akan slalu kurindukan.

Masihkah kita akan melihat bulan yang sama?

—-Tak ada kisah kasih yang abadi selain kasih Tuhan—-
Special thanks for Tajus Amrulloh, Lambang Rafiq, Uswatun Khasanah, Luthfi Noor MUntafiah, Ana Lailatil Istiqomah dan semua sahabat-sahabat yang tak bisa disebutkan satu persatu, yang telah menjadi bagian mozaik hidup saya, dan membuat semuanya terasa indah untuk dikenang. Mimpi harus tetap dikejar ^-^

Muara Rindu…

Rasa apa yang kau sergapkan di hatiku ini ya Rabb…

Aku masih bias melihat gurat menua diwajahnya

Aku masih mencium bau peluhnya

Aku masih mampu memeluknya dan mengucap manja padanya

Namun mengapa mataku bermuara air mata

Terpikir rasa takut kehilangan yang sangat

Ya Rabb… bukankah perpisahan itu selalu ada

Lalu rasa hebat apalagi yang akan engkau benamkan dalam hatiku

Saat Engkau memanggilnya untuk selamanya

Bisakah aku mendengar nasehatnya diwaktu senja ya Rabb…

Yakinkan dan kuatkan aku ya Rabb

Bahwa Engkau akan menjaganya

Memberikan terpat ternyaman untuknya

Agar nanti mereka bias tersenyum saat mengintipku dibalik surga…

 

 

 

 

 

 

 

Ayah bunda…

Adadan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku…

 

 

My room, July 25, 2011

Sajak Bunga dan Kumbang “Ini Soal Prinsip atau Ego”

Beginilah hatiku bertarung melawan pikiran-pikiran yang terus berkecamuk dalam batinku. Hinakah aku di depan mereka tanpa sebuah pengorbanan. Aku terdiam tak mampu menggoyahkan sedikitpun kakiku untuk melangkah, menjemput cinta…

Aku membiarkan cintaku luntur di telan waktu dan kecamuk rasa. Hingga akhirnya kecewa yang pasti datang bertandang…

kumbang-dan-bunga“Engkau tau bunga ditaman. Ia akan tetap indah dan lebih indah bila dijaga. Bunga memang ditakdirkan untuk tak memiliki sayap layaknya kumbang yang dapat terbang kian kemari. Bunga memang tercipta untuk menanti kumbang datang padanya. Menghirup aroma wangi dan mencecap manisnya madu cinta.

Namun bila separuh sayap kumbang patah…???” Continue reading