Aku Cemburu

Cemburu? Ya. Aku cemburu. Benar-benar cemburu. Dadaku bergetar hebat. Telingaku memanas. Panasnya bahkan hingga merambat ke pelupuk mata. Nyaris tumpah.

Ya Tuhan! Cemburu. Manusiawi. Dan saya juga manusia itu. Yang dikirimi cemburu. Saya lihat yang lain gandengan, cemburu? bisa tahan. Kerjaan yang lain lebih mapan, cemburu? ikhlas. Tapi cemburu saat melihat orang-orang hebat. Menuntut ilmu. Berkelana ke negeri-negeri asing. Mendapat beasiswa.

Mendapati diri saya masih di kota kecil ini. Melalui shock culture dari dunia TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah yang ternyata juaauuhhhhhhh (alay) berbeda dengan kehidupan kerja nyata, membuat saya kadang mengeluh dan ingin sekali sekolah lagi. Merasakan siraman ilmu seluas samudra, mendapati pengajar-pengajar dengan wawasan seluas langit. Melakukan eksperimen-eksperimen tingkat wahid. Saya ingin itu.

Bermimpi itu tidak salah kan? Tentu! Meskipun saya tidak bisa menjamin apakah nanti kalau saya sudah benar-benar sekolah, mendapatkan beasiswa itu, saya akan segembira angan-angannya. Apakah lantas saya akan merindukan kerja? Lakukan tugas, dapat uang. Tidur lega. Hahahaha. #sumpah tak seindah itu hahahaha

Belakangan saya sungguh menyadari bahwa menjadi mahasiswa daerah itu (memang) membuat kita sedikit telat informasi. Beasiswa S1 itu ternyata buanyaaaaakkkkk!!!. Apalagi yang model-model short course, kebanyakan untuk yang masih kuliah. Dan saya mengetahui itu setelah sudah lulus. #sigh 😀

Ya bagaimana tidak, dengan pekerjaan saya sekarang, saya dituntut menafakuri komputer hampir setiap hari. Kudu up to date (mmm saya kurang yakin dengan ini hahaha). Kalau sudah begitu, dengan koneksi internet yang bagus tentu saya sering berjelajah. Iseng-iseng bosan kadang key word saya mengantarkan pada beberapa penawaran beasiswa yang nyantol oleh google search engine. Dan seringnya nemu beasiswa yang kiranya saya mampu, persyaratan ok, eh…untuk anak ITB, UI, UGM, dan kawan-kawannya itu. #berasa banget kan mahasiswa pinggirannya -____-‘. Jadi kalau temen-temen niat melanjutkan kuliah, apalagi yang berbau beasiswa, mungkin berjuang masuk di universitas ternama bisa disarankan. Pasalnya, mereka sudah punya banyak link dengan perusahaan pemberi beasiswa. Pun kampus luar negeri yang siap memberi peluang bagi para pengemis-pengemis intelektual macam kita 😀 . Tapi yo usaha rek! Ehehehe.

Tapi saya tidak pernah menyesali semua yang terjadi. Pun kalau saya tidak masuk di kampus saya dulu, belum tentu saya bisa menjadi saya yang sekarang. Tetep kecipratan berkumpul dengan orang-orang hebat. Mengerti makna mencari ilmu sesungguhnya. Belajar menjadi pribadi yang bekerja untuk ibadah dan mensejahterakan bangsa (ehmmm! maaf mulai alay :mrgreen: ).

Mengerti bahwa mimpi itu tidak harus diwujudkan (ranah Tuhan YME). Tapi wajib diusahakan (ranah manusia). #mulai, sok bijak hohohoho 😳

Yah tahun-tahun lalu sudah kali berulang kegagalan itu. Mau ikut IELSP tumbang di tahap wawancara 🙂 . Ikut Pembibitan Alumni, ibid  😛  . Ikut yang sekarang ini? Belum tau tapi bau-baunya sudah tenggat waktu belom ada info, ngalamat :mrgreen:

Yah tapi saya senang. Semua itu membuat hari-hari saya tidak monoton. Cinta itu membuat kita hidup, tapi harapan membuat hidup kita lebih hidup. Jadi kita harus berharap! Berharap apa? Cinta! Intinya? Jomblo! Wkwkwkwkwk (aduh maaf keluar tema lagi 😛 intermezo nggih 😳 )

2014? bangun lagi harapanmu, kalau tahun-tahun lalu sudah tumbang, coba lagi. Mimpi lagi. Tapi jangan lupa ketahui mimpimu. Fokus. Usahakan. Dan wujudkan. Tuhan hanya menyuruh kita berusaha yang terbaik bukan? Tidak menjadi yang terbaik. Semua kegagalan sudah membuat saya kebal untuk legowo. Tapi yo tetap cemburu haha.

 At least, mimpi itu membuat saya merasa kaya. Apalagi merasakan hasrat saat kita mencoba mengupayakannya. Jantung saya berdetak keras dan teratur. Oksigen seperti membawa energi semesta untuk menjalani hari dengan semangat. Pada akhirnya proses selalu terasa lebih mencengangkan daripada mengetahui hasil itu sediri.

Menang itu menyenangkan, tapi merasakan gejolak harap-harap cemas saat mengupayakan sukses itu…NIKMAT!

Advertisements

Monolog Tak Terdengar

har ghadi badal rahi hai roop zindagi
life changes its beauty all the time

chaav hai kabhi, kabhi hai dhoop zidnagi
sometimes it’s a shade, sometimes life is sun light

har pal yahan… jee bhar jiyo…
live every moment here to your heart’s content

jo hai sama… kal ho na ho…
the time that is here may not be tomorrow

Detik ini di tempat saya berdiri, saatnya membuka mata lebih lebar, menyipit saat diperlukan, mengejangkan daun telinga, dan mengedarkan otot leher menuju arah mata angin. Mencoba merekam baik baik setiap hembus angin dan gerak awan yang biasanya tak teracuhkan. Mungkin besok semua kelelahan-kelelahan ini akan terindukan. Berharap bila waktu itu tiba, maka saya sudah siap dengan kaleodoskop yang akan memutar scene demi scene yang saya butuhkan.

He asked to me: so how u’ll be going on? Can you stand by yourself?
me: …
Other asked to me: are you ready for it? are you sure taking your single-hearted down?
me: …
Another asked me: from ten thousand people trying to stand? Just a thousand can be! You are one, and you wanna lose it?
me: …

FLY4

Tidak semua harus dijelaskan bukan?! Seperti kopi yang tidak pernah bertanya kenapa gula itu ada. Tepatnya saya tidak punya penjelasan. Tidak punya kekuatan untuk menjelaskan. Saya tahu Tuhan ikut bertanya pada saya, ‘mampukah saya?’. Tapi saya juga tahu Tuhan punya jawabannya. Melebihi saya. Melebihi mereka.

HOME

…….

Another summer day

Has come and gone away

In Paris and Rome

But I wanna go home

Maybe surrounded by

A million people I

Still feel all alone

I just wanna go home

Oh I miss you, you know

…….

Michael Bublle-Home

Hujan sudah reda sejak jarum jam menunjuk angka lima, akhirnya kita bisa melihat bulan yang sama. Di bawah atap yang sama. Ditemani secangkir kopi susu dan susu jahe. Berharap kehangatan masih sama seperti masa masa sebelumnya. Diganjal nasi goreng berlumur saos tomat berlebih dan kau bilang tak enak, tapi bagiku ini terasa lengkap dengan celoteh random dari mulut kita. Kalian selalu tahu cara membuat angin terasa mencubit dan sedetik membelai kerinduan yang terpendam.

Ah waktu terasa selalu cepat, selalu kurang saat aku bersama kalian. Rasanya, langit mendadak mendung dan grimis akan turun. Ya gerimis itu benar benar turun saat roda kendara menjauh, suara Michael Buble tiba-tiba menjadi soundtrack yang membuat gerimis ini benar-benar meleleh dari kedua bola mata.

Seperti terputar kembali kalaedoskop saat pertama aku mengenal kalian, pertama kali berselang pendapat dengan kalian, pertama kali menghitung receh yang tertinggal di saku celana, dan berulang kali merasa orang paling sibuk sedunia. Ah mungkin terlalu berlebihan.

HOME

Kita…

Tidak lahir dari rahim yang sama, kita tidak belajar berjalan di latar yang sama, kita hanya pernah mengeja kata sahabat bersama, tapi rasanya udara kehabisan oksigen saat kudengar kalian akan jauh di sana.

Sebenarnya aku bahagia melihat kalian menari di tanah yang berbeda, tapi aku hanya akan merindukan rumahku. Ya, kalian rumah itu. Rumah yang selama ini tempat aku berteduh saat dingin, saat hujan lama tak menampakkan pelangi, saat es krim cepat meleleh dipapar matahari. Rumah yang setiap sudutnya mampu bercerita. Rumah yang diam diam akan slalu kurindukan.

Masihkah kita akan melihat bulan yang sama?

—-Tak ada kisah kasih yang abadi selain kasih Tuhan—-
Special thanks for Tajus Amrulloh, Lambang Rafiq, Uswatun Khasanah, Luthfi Noor MUntafiah, Ana Lailatil Istiqomah dan semua sahabat-sahabat yang tak bisa disebutkan satu persatu, yang telah menjadi bagian mozaik hidup saya, dan membuat semuanya terasa indah untuk dikenang. Mimpi harus tetap dikejar ^-^

Bronthosaurus Kita

bumi mimpi difussi

There is no guarantee for distance. Near. Far. Often. Seldom. Something we call love and friendship is a cruel photosynthesis process from belonging, patient, faithful, care, and other heart nutrients.
Everything is change soon or lately. We adore or regret. If it is not our self changing, so the environment surrounding us is.
There is no matter, we just have to realize that we have to attend it. Be brave for standing with kind of reasons why it changes.

Orang bijak bilang inilah sebuah proses pendewasaan. Dimana dewasa bukan dari berapa umur kalian. Berapa banyak buku yang anda lahap. Berapa banyak tanah basah yang tertapak. Ini soal bagaimana mengambil sebuah sikap. Keputusan. Kadang mendesak. Mengintimidasi. Atau bahkan menguliti jati diri dan prinsip yang terpancang kuat mengakar egosentris diri.

Indeed, I have to take down my emotion when discuss what time to meet up together. Just take a coffee. Atau ngobrol ngalor ngidul yang berisi curhatan gak jelas dari kawan lama. Sebenarnya itu tidak mutual sekali. Tapi rasanya waktu selalu tak cukup memuaskan pertemuan kompeni tiga serangkai yang mulai uzur dimakan kesibukan dan rutinitas masing-masing ini. Sometimes, it sounds like foolish reasons for being busy each others.

Kadang terasa benar pepatah lama, bukan kuantitas tapi kualitas. Quality time we have to say hello. To see smile. To get deep looking. To feel a big friendship around us.
BIG. BIG. BIG. Rasanya persahabatan kita ini bukan hanya mamut merah jambu kan? tapi bronthosasurus!
Whatever!
Nyatanya rasa rindu ini kerap terbit di pelupuk hati saat lama tak beradu pendapat atau sekedar menyeruput kopi. Ini hanya sebagian mozaik. Proses dimana pencapaian mimpi masing-masing. Bila tak sempat berjabat, semoga doa kiranya mampu menyampaikan lebih banyak kebahagiaan.

Verbalisme & Doa

Semenjak mengangkat diri dari sujud dan menenggelamkan diri dengan kesibukan siap-siap berangkat ngantor akhirnya aku telah menyadari bahwa telah berada ditengah teriknya aspal jalan yang hitam menyilaukan terpapar matahari. Namun beginilah adanya, aku selalu seperti termasuki roh verbalisme yang membuat kata-kata jatuh satu-satu ke otakku terangkai dan menari begitu saja di benakku sembari mata mengawasi gerak lalu lalang kendaraan di jalanan.

Huh. Sebegitu melankoliskah aku seusai membaca novel? 😳 . Hahahaha 😆 . Memang. Selalu saja ada hadiah tanya atau renungan kecil yang menyelakar di hati dan pikiran—Asa. Cinta. Perjuangan. Hidup—Semburat tersirat dalam novel-novel yang kerap mampu menguasai jiwa dan membuatku terjaga berjam-jam dalam deretan kata dan tumpukan kertas berjilid.

Dan kali ini tanpa sadar entah darimana, mataku memanas, bukan karena kelilipan debu jalan, bukan juga dari serangga usil yang nyasar kemataku. Satu-satu buliran air mata terasa asin dan telah berpindah dari sudut mataku kini di ujung bibirku yang kering oleh siang.

Berulang-ulang rangkaian kata-kata itu tersusun sendiri dalam benak dan membayang di hati meresap seperti air mataku yang menembus pipi. Seperti rentetan doa.

 Tuhan hamba tahu sejak dulu Engkau diam-diam mendengar dan menyimpan mimpi-mimpi kecil saya, hingga menyembulkan mimpi itu ke permukaan, dan disini, di hati saya, dimana tertimbun selaksa rasa dan asa masih ada segumpal mimpi yang belum utuh,  yang entah seperti apa, namun hamba tahu Engkau telah menyusunnya, menyimpannya disana. Indah. Menyejukkan. Bersemangat. Dan Engkau akan membantu saya meraihnya.

 Dan teringat sapa bapak saat berpapasan di tikungan sebelum berangkat, “hati-hati ndok…!” ditemani raut mukanya yag khas antara senang, sedih, bangga, haru, ditengah gurat tuanya yang mulai sering terlihat. 😥 😥 😥