Layakkah Dee disandingkan dengan Dan Brown?

What a adorable book!

Jujur ini buku pertama saya tentang serial Supernova dari Dee yang saya baca. So what should i say? . Mungkin terlalu cepat untuk melayakkan Supernova dan Dee dengan Inferno atau Angel and Demonnya Dan Brown. Karena yaa belum ada ending [yang jelas] dalam buku berjudul Gelombang ini. Plus saya belum membaca supernova yang sebelumnya. (Kabarnya mirip juga)

Parahnya setelah saya membaca saya jadi ouwh d***! semacam harus langsung ke buku selanjutnya. huffttt. Masalahnya saya tidak hanya keranjingan karena belum bisa beli atau pinjam seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah untuk menuntaskan novel ini. Tapi karena memang bukunya belum terbiittt kyaaaaaaaa *cakar tembok*

Jadi bukunya berkisah tentang tokoh utama Alfa yang sejak kecil mempunyai semacam intuisi atau keahlian ghaib *halah* yang membuatnya berbeda. Tapi memang Dee menggambarkan cowok ini berbeda dari lainnya. Alfa (dewasa) tersirat charming, cakep tinggi putih, pintar dan pekerja keras. Plus mapan dan tanggung jawab. Sejauh itu menurut saya. *terdengar semacam pria “idaman” dalam otak saya saya yah? hahahah*

Karena hidupnya yang sejak kecil sudah lain dari yang lain, diapun berkelana hingga ke Amerika untuk mengenyahkan segala yang pernah ia rasakan sewaktu kecil. Namun justru di daratan inilah petualangan mencari jati dirinya dimulai dan akhirnya terungkap hingga di lembah Yarlung, Tibet.Β  Tapi setelah pembaca diajak berjalan, berlari, mengendap-ngendap, melangkah lagi hingga menemui sedikit pencerahan siapa tokoh dan tujuan Alfa ini sesungguhnya dan siap berlari lebih kencang lagi… eeee…. udah EPILOG. BAYANGKAN! *nyesek*

gelombang

Pantas ya semua solid reader-nya Dee di serial Supernova ini rela menunggu bertahun-tahun untuk bisa membaca kelanjutannya. Karena seperti yang Dewi Lestari pernah bilang bahwa setiap buku dalam supernova dapat dibaca terpisah kecuali buku ke 6 (Iintelegensia Embun Pagi)—-yang nantinya akan menjadi Gong penutup sekaligus jawaban dari semua tokoh Supernova. Kalau saya bilang (skip buku lain yang belum saya baca) Supernova tidak bisa dibaca secara terpisah. Dee semacam PHP-in saya lewat Gelombang ini -_____-‘. Karena kita mesti nunggu buku ke-enamnya muncul dulu baru bisa menguak misteri dari keseluruhan serial termasuk Gelombang ini. Sekali lagi….BUKUNYA BELUM TERBIT! kyaaaaaaaa *cakar tembok tetangga*

Kalau ada yang bilang buku Dee-Supernova ‘berat’, bisa jadi. Karena dia tidak akan menyelipkan kata-kata bertuah filosofis nan romantis seperti karya-karyanya yang lain (Perahu Kertas, Madre, Filosofi Kopi, Rectoverso) kecuali barit puisi pada lembar pertama. Tapi kita akan langung difokuskan pada alur cerita yang campuran, naik turun, meliuk, gelap terang, persis seperti Gelombang πŸ˜€ . But actually i was so mature to read it *duileh* * πŸ˜› Maksudnya saya sudah mengikuti karya-karyanya yang addicted, saya sudah bisa menebak seperti apa kemampuannya menulis fiksi ilmiah. Saya sudah jadi followersnya sejak Gelombang dalam rahim. Jadi kelahirannya memang seperti telah menyedot perhatian saya. Namun, saran saya, saran sih, kalau kamu belum benar-benar siap jangan terjun hihihihi karena bukunya…..ah sudahlah bacalah sendiri :mrgreen:

Sejauh kepandaiannya dalam meramu yang nyata dan fiksi, research mendalam dengan proses sunting yang saya yakin matang, dia berhasil membuat saya terjun dalam bukunya. Rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya rasakan ketika membaca Dan Brown, kerap muncul juga dalam membaca buku ini. Dan keduanya membuat kita harus ekstra sabar. Kenapa? Karena sampai setengah buku saya baru bisa merasakan addicted itu, sebelumnya proses memahami πŸ˜€ . Ya kayak orang pedekate gitu lah *halah*

Sayangnya kalau Brown langsung menghujam kita dengan ending yang dasyat di setiap bukunya, Dee seperti sedang membuang kail dan umpan. Endingnya sengaja disembunyikan di buku terakhir. Entah ini memang stategi pasar, stategi kegeniusannya mengolah karya atau entahlah.

Akhirnya saya hanya mau bilang. Saya sakau! tolong ya Dee dipercepat proses nulis Intelegensia Embun Paginya 😦 πŸ™‚

PS: Dukung Gerakan Indonesia Membaca
Dukung Karya Anak Bangsa
Majulah Sastra Indonesia

Kenalan dengan Rujak Cingur

……..
Sopo ngerti nasib awak lagi mujur
Oleh kenalan bakule rujak cingur
…….

Sejak lama mendengarkan lagu itu, rasa penasaran saya kian muncul timbul tenggelam apa sebenarnya rujak cingur itu. Meski saya orang Jawa Timuran namun nyatanya belum semua jajanan khas Jawa Timur saya cicipi. Bahkan saking beragamnya sebutan untuk makanan yang sebenarnya sama, membuat pemahaman ini terlampau kurang. Inilah Indonesia, Satu Nusa Seribu Budaya. πŸ™‚

Di Indonesia sendiri banyak sekali penganan yang disebut dengan rujak. Ada rujak buah yang sebagian menyebutnya rujak dulit, rujak pasah atau sawut, rujak sayur yang disebut rujak petis atau rujak cingur ini, bahkan sebenarnya ada juga turunan makanan yang juga bisa dikatakan masih family rujak-rujakan πŸ˜€ (munkin ini bisa dicarikan bahasa latinnya πŸ˜† )

Kembali lagi ke–rujak cingur–(sengaja ngolor cerita biar nahkasnya panjang. Halah. :mrgreen: ) . Karena tak tau dan belum pernah tinggal di kota spesies makanan ini berasal terjadilah percakapan ini di suatu waktu.

Me : buk, rujak cingur niku nopo nggih?
Mom : ya rujak nganggo cingur!
Me : lha bentuk e pripun?
Mom : yo koyo rujak petis!
Me : lha bentene kalian rujak petis nopo?
Mom : nek rujak cingur iku nganggo cingur nduk!
Me : cingur niku nopo ta buk?
Mom : cingur ki ya cingur!?!
Me : ……….. (krik krik krik)

Dari situ saya berkesimpulan bahwa ibuk saya juga bukan ahli Botani (ya jelas). Mmmm, mungkin belum pernah nyicip juga πŸ˜€ :magreen: πŸ˜€ . Ya sudahlah saya tidak mau memperpanjang masalah apa itu cingur dan rujak cingur. Kalau jodoh pasti bertemu. Hihihihihi.

……………
Sopo ngerti nasib awak emang mujur
Oleh kenalan jenenge rujak cingur
……………

Begirulah disuatu siang, di sebuah warung di sudut Kota Pecel. Kawan saya tidak pesan pecel (nah lho?!). Tapi rujak cingur πŸ˜› . Disitulah saya bertanya dengan si penjual. Apa sebenarnya rujak cingur. Ternyata kembali lagi terngiang jawaban.

β€œYa rujaknya pakai cingur mbak”
Dan persis seperti yang pernah saya lontarkan pada ibu saya, β€œcingur itu apa ya buk?”
β€œcingur itu….”

rujak dengan potongan cingur ^^

rujak dengan potongan cingur ^^

Oooalaaah ternyata cingur itu lidah sapi sodara-sodara πŸ˜€ . Waduh, saya kira dulu itu cingur sejenis petis, atau bumbu khas rujak itu. Rupanya cingur adalah bahan pelengkap, complement atau tambahan dalam adonan rujak yang telah penuh sesak dengan sayur mayur dan lauk pauk seperti tempe dan tahu plus ulekan kacang tentunya.

Cingur, mungkin semacam kikil (makanan dari kulit kambing atau sapi atau kerbau yang telah direbus dan dibersihkan) pada beberapa rujak petis yang juga diberi lontong di belahan bumi lain. Penampilannya ternyata cukuplah mirip dengan rujak petis. Hanya saja ada tambahan yang disebut dengan cingur itu tadi.

Secara tidak langsung, sesungguhnya warga indonesia itu adalah koki-koki handal. Satu makanan saya bisa hadir dengan berbagai garnish dan sensasi yang berbeda-beda. Bahkan juga nama . πŸ™‚

Bahasa

bila…
bahasa daerah mulai sepi peminat
bahasa indonesia mulai di-alay-kan
bahasa inggris ingin dihengkangkan

seni punya bahasanya sendiri untuk bicara…
dan bahasa hanya sebagian dari seni itu sendiri…

Karena seni terlampau luas untuk diapresiasi, bahkan seni menjawab tanya bergantung dari siapa yang mengajaknya berdiskusi. Seni bisa mengkritik, seni bisa memuji, seni bisa menghujat, seni bisa merayu, dan seni bisa mengintimidasi. Tak peduli seniman atau bukan, budayawan atau amatiran, seni senantiasa menyampaikan filsuf-filsufnya, karena seni bertutur dengan hati…

Kreativitas makin sulit dicari

Entah karena apa aku menulis judul itu. Aku sendiri bukan orang yang pandai merangkai kata. Tapi lagi-lagi hasrat untuk mengungkapkan unek-unek muncul dari dalam diri. Yups sebuah kata yang perlu digaris bawahi kreativitas, merupakan kata yang terbukti tidak gampang untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas mempunyai makna yang luas jika ditelusuri seperti yang pernah diulas dari mata kuliah psikologi beberapa waktu lalu (sayang memory cukup malas untuk mereply hehe)

Dalam hidup yang penuh persaingan ini kreativitas memang sangat dibutuhkan. Sebut saja di Ponorogo. Kota yang beberapa tahun lalu masih sepi alon-alonnya, kini setiap sore sudah berapa banyak pedagang yang berjajar di sana dan berapa banyak juga para penjaja yang menghabiskan sore mereka hanya untuk jalan-jalan atau juga menikmati santap sore mereka di sana. dengan daya saing yang semakin tinggi tentu saja diperlukan inovasi dan kreativutas yang tinggi juga. Contoh sederhana adalah pedagang singkong keju dan tahu kress. Alow kita kembali pada kehidupan sehari-hari pasti melihat tahu apalagi singkong goreng pastilah sudah sangat biasa. Apalagi lidah orang sekarang yang ternyata cukup manja juga ( apalagi alow udah banyak duit hiks πŸ˜› )

Kita bisa lihat hanya dengan menambahkan keju pada singkong keju dan ser4buk bumbu berasa pada tahu kress ternyata sudah menambah nilai lebih pada dua jenis makanan yang sebenarnya sudah kita kenal sejak jaman belanda ini. Dan tentu satu yang tidak mereka lupakan. Tidak seperti jaman dulu para kaki lima menjajakan makanan mereka dengan gerobak sederhana yang terkesan kurang nyaman. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi mereka menghias gerobak dengan semenarik mungkin tentu untuk menarik pembeli dan pastinya ini juga suatu wujud kreativitas. Dan semakin banyak kreasi-kreasi muncul maka kreasi yang lebih orisinil juga akan semakin membutuhkan keuletan untuk mendapatkannya. Continue reading

RAMADHAN butuh PELAMPIASAN

HAPPY RAMADHAN ^_^

Sebelum cit cit cuit.. ku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. semoga dengan adanya bulan suci yang penuh berkah ini kita kembali jadi manusia yang TOP. AMIEN.

Ramadhan-1Bulan ramadhan emang bulan yang penuh dengan coba’an. Cobaan laper, cobaan haus, cobaan nafsu, sampe cobaan on line. Hayoo yang hoby ngaku deeee…hixs. Gak bisa dipungkiri alow puasa pasti kegitan entah kenapa agak terasa ngeboringin. Bahkan bagi sebagian orang ada yang suka cari-cari tempat pelampiasan agar gak kerasa lapernya. Hmmm…laper c mungkin bisa ditahan, aus ne yang rada bikin huft…tapi ada yang lebih bikin kagak nahan ON LINE tentunya. Continue reading

Panjat Pinang berfilosofi???

Assalamu’alaikum…^_^

Halooo…hehehe… tadinya mu nulis acara 17-an kemarin yang cape-cape tapi mumpung inget yang atu ne jadi di posting dulu dech ^_^. Acara tujuh belasan memang sering di ungkapkan dengan berbagai event, mulai dari di daerah-daerah, kota-kota sampai desa-desa. ___Panjat_Pinang_1____by_imetusDan mungkin yang namanya panjat pinang menjadi salah satu lomba faforit yang gak mau ketingalan. Mungkin saking serunya lomba yang satu ini kali yaw. Sebatang pohon pinang atau yang kerap di ganti dengan bambu yang diolesi dengan oli (OIL haruse, lidah jawa sie hehe…) yang membuat orang-orang susah untuk memanjat sampai keatas dan memetik buah pinang, ups hadiah maksudnya yang tentunya udah di pasang di puncak oleh panitia lomba.

Wach, wach, wach saking semangatnya mereka rela berlumuran oli n ijek-ijekan dengan temannya. Sebenarnya di balik keriuhan lomba yang satu ini, kamu tau gak sih alow sebenarnya ada filosofi menarik yang perlu dikupas dan dikritisi kebenarannya.

PANJAT PINANG, ternyata kegiatan yang satu ini sudah ada sejak zaman jepang n belanda…lebih tepatnya zaman penjajahan, dimana rakyat Indonesia menderita oleh bulan-bulanan penjajah yang selalu menindas dan menertawakan kita. Continue reading