BST #1

Assalamu’alaikum πŸ™‚

Waiyaaaa, as usual i wanna tell you what happened in my daily life some days before :mrgreen:

We got duties to report BST (Bantuan Sosial Terpadu) friends, it held in Gemarang, Madiun. Here is some of my capture πŸ˜‰ so sorry for the bad quality yah πŸ˜›

Goes to location

Because of tired, we upgraged our energy in Dhenok house hihihihi :mrgreen: (lumayan makan gratis :D)

Perampokan bermodus silaturahim :mrgreen:

Talas, dessert ala pedesaan πŸ˜€ yummmmy

Take a pic duluuuuu before make a video πŸ˜€

Mr. Griff wanna be

Campursari

In my opinion, this is a nice campursari group lhooohhh, it is kinda mix islamic campursari (traditional + modern)

Milky πŸ˜†

Orrange or milk :mrgreen:

Haha what happened next?, keep kepoing our journey :mrgreen: πŸ˜‰

Advertisements

Panjat Pinang berfilosofi???

Assalamu’alaikum…^_^

Halooo…hehehe… tadinya mu nulis acara 17-an kemarin yang cape-cape tapi mumpung inget yang atu ne jadi di posting dulu dech ^_^. Acara tujuh belasan memang sering di ungkapkan dengan berbagai event, mulai dari di daerah-daerah, kota-kota sampai desa-desa. ___Panjat_Pinang_1____by_imetusDan mungkin yang namanya panjat pinang menjadi salah satu lomba faforit yang gak mau ketingalan. Mungkin saking serunya lomba yang satu ini kali yaw. Sebatang pohon pinang atau yang kerap di ganti dengan bambu yang diolesi dengan oli (OIL haruse, lidah jawa sie hehe…) yang membuat orang-orang susah untuk memanjat sampai keatas dan memetik buah pinang, ups hadiah maksudnya yang tentunya udah di pasang di puncak oleh panitia lomba.

Wach, wach, wach saking semangatnya mereka rela berlumuran oli n ijek-ijekan dengan temannya. Sebenarnya di balik keriuhan lomba yang satu ini, kamu tau gak sih alow sebenarnya ada filosofi menarik yang perlu dikupas dan dikritisi kebenarannya.

PANJAT PINANG, ternyata kegiatan yang satu ini sudah ada sejak zaman jepang n belanda…lebih tepatnya zaman penjajahan, dimana rakyat Indonesia menderita oleh bulan-bulanan penjajah yang selalu menindas dan menertawakan kita. Continue reading