Apa arti ‘benar-benar hadir’ dalam karya Dee, Partikel?

Sudahkan kamu benar-benar hadir untuk semesta?

Apakah kamu sudah benar-benar hadir untuk pekerjaanmu, atau sekedar ‘nyari uang’?

Apakah kamu sudah benar-benar hadir untuk keluargamu? Atau sekedar ‘meneduh’?

Apakah kamu sudah benar-benar hadir untuk temanmu? Atau sekedar basa-basi lama tak bertemu?

Sudahkah kamu benar-benar hadir untuk Tuhan-mu? Atau sekedar ritual?

 

supernova partikel dee

Aku masih ternganga membaca argumentasi Dee lewat karyanya Supernova berjudul Partikel. Bagaimana ia menunjukkan intelegensia sekaligus sensitifitasnya terhadap sekitar. Lebih tepatnya pembaca. Ia seolah tau bagaimana cara membuat pembaca skack matt dihadapan ide-ide yang ia sampaikan lewat kalimatnya.

Tidak banyak orang yang mampu menggabungkan  itu. Kecerdasan berpikir logis serta daya seni yang mencolok sekaligus. Dan dee segelintir dari itu. Aku bisa merasakan bagaimana ia membuka setiap sudut pandang baru pembaca, aku bisa merasa ia mencoba mencukil kembali kesadaran intelektual yang kadang absurb namun mengemasnya dengan begitu apik, santai dan berirama. Ia menggabungkan kecerdasan otak kiri dan kanannya dengan seimbang, bila tak bisa disebut sempurna. Hehe.

Salah satu bukti ia sedemikian serius menalar, merasa dan melogika adalah dalam potongan dialog Zarah (tokoh utama) dengan sang Ayah .

“Sekarang ini, sulit mencari orang yang benar-benar mau mendengar,” kata ayah dulu. “Pak kas itu mendengar dengan sepenuh hati.”

Aku bertanya, “Bisa tahu bedanya yang mendengar dengan sepenuh hati dan gak gimana Yah?”

“Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengarkan, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu,” jawab ayah. (Partikel, Dewi Lestari: 178)

Secara awam, pembaca pasti langsung nyeletuk dalam hati ‘iyes’ (pengalaman pribadi) dan langsung terhambur di masa-masa dimana ngopi dan ngobrol ngalor ngidul sama karib benar-benar jadi stress reliever yang jitu banget. Walau gak secara langsung kita ngomongin masalahnya, rasanya enteng aja gitu. Bisa jadi, analog Dee benar bahwa kehadiran seseorang yang benar-benar ada buat kita menjadi ‘obat’ untuk jiwa kita.

Secara ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) pun disinggung  bahwa, kita dapat saling mentranfer energi dengan orang lain. Dalam suatu kasus bahkan tanpa seseorang bicara pun, lawannya dapat mengetahui dengan jelas apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan. Bahkan hingga detail. Dengan catatan si lawan bersungguh-sungguh mengamati, dan si obyek bersedia atau yakin dengan si lawan bicara. Percaya tidak percaya, namun singkat kata, Dee dalam membuat karya selalu tidak melulu melibatkan emosi ataupun ilusi dalam khayalannya saja, namun ia juga menyematkan sain dan logika secara apik. Sehingga secara tidak sadar saya kadang tercenung ini nyata atau fiksi sih. Meskipun secara sadar saya tahu bahwa riset mendalam adalah kunci Dee dalam menelurkan itu semua.

Well apapun itu, saya suka lah cara dia dalam menulis. Caranya menyampaikan kebenaran tanpa menggurui, caranya merayu dengan kalimat indah yang cerdas. Meskipun bisa dibilang cukup telat membaca karya-karyanya. But it’s ok. Aku pikir mungkin memang ini waktu yang tepat. Karena butuh jiwa yang matang pula untuk memahami maunya Dee dalam setiap karyanya. Jika terlalu muda mungkin kita gak ‘mudeng’, tapi jika terlalu kolot mungkin kita akan bilang omong kosong. Jadi biarlah pembaca yang memutuskan mau kemana isi buku itu, biarlah ia terpuaskan mengerahkan sepenuh hati dan tenaga dalam berkarya. Toh nyatanya apa yang dihasratkan Dee tersampaikan pula kepada pembaca. Itulah makna hadir. Ketika kita melakukan segala sesuatu dengan seluruh kehadiran jiwa, pikiran, dan hati yang utuh, maka energi itu pulalah yang akan sampai. Meski kita tidak pernah tau akan hasilnya. Namun kita pasti bisa merasakan aura ‘betah’.

Ngomong-ngomong, sudah baca supernova partikel? 😀 😉

 

 

Advertisements

Namanya Dee

 Di sebuah folder, di dalam PC yang sudah mulai ditinggalkan zaman. Di sudut ruang yang hanya sesekali terjamah oleh jari nakal yang rindu barisan kalimat terangkai. Sudah lama rasanya Perahu Kertas ngendon di sana. Sejak lama pula keberadaannya sedikit terlupakan. Namun akhirnya, berpindah juga isinya ke dalam ruang kenangan yang disebut otak manusia. Dan manusia yang mulai kelabakan karena tak ada lagi buku baru yang menarik untuk bisa dibaca itu adalah aku. Hihihihi.

Iseng-iseng maen computer eh ketemu si karya Dewi Lestari atau hangat dengan sebutan Dee. Sebaris dua baris, selembar lima lembar mulai terpesona dengan alur dan keindahan untaian kata-kata Dee. Benar saja. Endingnya mulai seperi psikotropika. Mencandu dan membuat aku ingin membaca karyanya yang lain pula.

Mulai deh searching-searching di google. Yang konon katanya bisa menjawab semua tanya, meski kini seringkali terdampar di blog orang yang punya tautan sama dengan kata kunci yang terketik di kolom search. Dan akhirnya sedikit penasaran setelah baca beberapa review tentang Madre.

Dan tentunya karena saya ini orang yang sok-sok mau puitis dan filosofis, jadilah banyak quotes-quotes yang bikin tangan makin kelu ingin membaca bukunya secara utuh. Tapi sayang belum nemu juga e-book-nya. Hohoho sedikit tidak beruntung dibanding dengan perahu kertas yang dulu kudapat.

Waktu teman lagi di book store sempet nitip cariin juga, namun kandas. Sudah di-return katanya. Yawes piye maneh. Eee emang dasar jodoh hihihihi. Suatu ketika temenku tanya buku apa yang asyik buat bacaan. Bermodal keinginan mulai inget-inget deh buku apa yang pengen kubaca juga. Akhirnya satu ketika hadirlah Dee di genggaman. Sebagai salah satu literatur yang ia tawarkan untuk menutrisi otak. Alhamdulillah :mrgreen:

madre

And yeayyyyyyyyyyy gilaaaaaa bener dah gak nipu ituh resensi orang-orang di google. Aslinya bahkan lebih ok dari yang terbayang hihihi *lebay*
Yah mungkin sedikit efek juga karena sudah lama tidak mendapat buku bacaan yag pas. Karena saya bukanlah kutu buku, juga bukan sastrawati yang bisa nangkap keindahan dan maksud dari puisi tingkat kakap, juga seringnya tertipu judul buku dan cover. Buku juga biasanya hanya ngena di beberapa babnya saja. Tapi Madre ini beda. Tiap bab bener-bener punya arti yang sama. Memukau. 😯

Dee sukses bikin pembaca gak bosen. Mungkin karena ini kumpulan cerita, puisi dan prosa juga, jadi yang ada adalah tulisan-tulisan pilihan yang ciamik. Dan yang jelas… Yang membedakan dee dengan penulis kebanyakan adalah dia selalu bereksperimen. Dia tidak hanya menulis karya kelas berat yang memusingkan. Dia ciptakan novel ala remaja. Temanya pun beragam. Tentang cinta, kehidupan, kultur. Jadi pembaca gak cuma disuguhkan dengan background cerita yang sama terus sehingga mudah ketebak alurnya di beberapa karangan selanjutnya. Seperti penulis yang sukses di tema pendidikan. Pendidikan teruuusssss. Cinta islami, islamiiiiii terus. Pembaca bukan sebenarnya seperti saya sungguh mudah bosan 😀 .

Susah lho kadang jadi saya sekarang. Pengennya buku yang gak terlalu berat buat refreshing. Tapi juga gak terlalu enteng dan hambar. Jadinya kadang bingung juga 😀 (padahal sebenernya gak ada tulisan yang enteng. Mereka sudah memeras otak untuk menciptakan sebuah kertas berjilid. Hihihihi. Blog ini ajah buktinya. Ngawur gak berkelamin dan acak, tapi gitu ajah updatenya gak rutin 😀 payah parah! 😳 )

Pastinya dee punya pengetahuan yang luas, atau mungkin riset yang matang. Mungkin masih pengen baca-baca karyanya yag lain, namun tak perlu terburu-buru juga pasalnya takut kecewa karena bahasanya ketinggian dan akhirnya malah menghapus kesan indah yang sudah ada. 😛