Hujan. Rindu. Aku

Kemarin hujan turun buk

sore, selepas aku meneleponmu

Pagi ini hujan masih turun buk

seperti menumpahkan rinduku

yang kemarin belum habis

Kemarin, hari ini, esok

rasanya akan sama saja.

bertelepon, bertukar gambar

tak menebang kangen, di pucuk-pucuk jati yang meranggas menggugurkan dirinya-sendiri

Lusa akan berbeda

bila aku denganmu buk

Aku akan pulang…walau kemudian sibuk dengan urusanku

lalu pergi dengan lupa menghitung ubanmu seperti yang kuikrarkan

Hujan

Jika pergi tak menjanjikan pulang, kenapa pisah tak mengingkari rindu?

 

Lalu hujan jatuh lagi,

kali ini bukan hujan langit…

Merindukan Pulang

1555489_10201897214389265_2553377637099747671_nAku menatap nanar di dua angka yang menyala lain warna
Dia seperti diam dan mengejekku dengan bahasa yang tak
kumengerti
Atau aku yang sedang angkat senjata menyerapahi
kediamanku
Bagai pendosa yang pengakuannya tak mengubah apa-apa
Layaknya cinta, ada kerinduan yang tak bisa kau
sampaikan hanya dengan kata-kata
Kau butuh raga yang hadir bukan dengan segenggam logam
yang kau hargai dengan pulsa
Ku tatap lagi dua angka itu, di sana dia masih menyala
Kuraba lagi bagian tubuh mana yang sakit
Tak ada
Hanya nyeri yang muncul entah dari mana
Lalu kutulis sebaris, nyeri itu nyata,

Merindukan P.U.L.A.N.G

25 maret 2016

Poem in the Morning

Haiii semestaaaaaa ๐Ÿ™‚
Pagi-pagi sudah menemukan ini saja: ‘sebuah catatan yang pernah kutulis untuk seorang saudara jauh disana’ ,ย pas saat galau menyerang lagi, hmmm it’s kinnda right words in the right hearth ๐Ÿ˜ณ . Sedikit tersentak ya, masih saja saya bimbang arah tujuan, berjuang itu ya apa saja, hadapi semua semak belukar dan lalui semua jembatan. Mungkin itu. Betapa saya selalu diuji dengan sebuah pilihan. Semoga Kau tetapkan aku selalu pada agama-Mu ya Rabb. Amin.

hidup ini begitu menariknya
ketika malam kian pekat menelan senja diujung sana
larik larik bait syair kerinduan berdendang
akan sebuah hangat persahabatan

kita yang melawan nasib
kita yang berjuang hidup
kita yang masih muda belajar
dan diajar oleh waktu sendiri

lantang pekikan perjuangan
agar esok lebih baik
tak henti terjatuh dan terjatuh lagi
dan tak bosan untuk terus bangkit

doa doa melapangkan kisah
tanpa keluh dan kesah
malam makin gelap
namun bayang tawa ceriamu ada disana

sebelum kaki kita kian tua
selama tangan kita masih mengepal
impian kita akan menyala terang

Jogja, 12 januari 2011

Anwar Agus Abidin

My Hero, My Haze

Neither the 10th day in the 11th month…

Nor any days in calendar can notice you…

Because every day, every time, and every breath, the hero is you…

my life’s dedicated to you with so much love ‘n gratitude :’)

Yang lain boleh jadi bulan atau matahari…

Tapi engkau adalah embun yang tak takut akan malam dan setia menyambut pagi….

Sesederhana itu engkau memahami, menyelami dan mengajari arti hidup ini…