Layakkah Dee disandingkan dengan Dan Brown?

What a adorable book!

Jujur ini buku pertama saya tentang serial Supernova dari Dee yang saya baca. So what should i say? . Mungkin terlalu cepat untuk melayakkan Supernova dan Dee dengan Inferno atau Angel and Demonnya Dan Brown. Karena yaa belum ada ending [yang jelas] dalam buku berjudul Gelombang ini. Plus saya belum membaca supernova yang sebelumnya. (Kabarnya mirip juga)

Parahnya setelah saya membaca saya jadi ouwh d***! semacam harus langsung ke buku selanjutnya. huffttt. Masalahnya saya tidak hanya keranjingan karena belum bisa beli atau pinjam seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah untuk menuntaskan novel ini. Tapi karena memang bukunya belum terbiittt kyaaaaaaaa *cakar tembok*

Jadi bukunya berkisah tentang tokoh utama Alfa yang sejak kecil mempunyai semacam intuisi atau keahlian ghaib *halah* yang membuatnya berbeda. Tapi memang Dee menggambarkan cowok ini berbeda dari lainnya. Alfa (dewasa) tersirat charming, cakep tinggi putih, pintar dan pekerja keras. Plus mapan dan tanggung jawab. Sejauh itu menurut saya. *terdengar semacam pria “idaman” dalam otak saya saya yah? hahahah*

Karena hidupnya yang sejak kecil sudah lain dari yang lain, diapun berkelana hingga ke Amerika untuk mengenyahkan segala yang pernah ia rasakan sewaktu kecil. Namun justru di daratan inilah petualangan mencari jati dirinya dimulai dan akhirnya terungkap hingga di lembah Yarlung, Tibet.  Tapi setelah pembaca diajak berjalan, berlari, mengendap-ngendap, melangkah lagi hingga menemui sedikit pencerahan siapa tokoh dan tujuan Alfa ini sesungguhnya dan siap berlari lebih kencang lagi… eeee…. udah EPILOG. BAYANGKAN! *nyesek*

gelombang

Pantas ya semua solid reader-nya Dee di serial Supernova ini rela menunggu bertahun-tahun untuk bisa membaca kelanjutannya. Karena seperti yang Dewi Lestari pernah bilang bahwa setiap buku dalam supernova dapat dibaca terpisah kecuali buku ke 6 (Iintelegensia Embun Pagi)—-yang nantinya akan menjadi Gong penutup sekaligus jawaban dari semua tokoh Supernova. Kalau saya bilang (skip buku lain yang belum saya baca) Supernova tidak bisa dibaca secara terpisah. Dee semacam PHP-in saya lewat Gelombang ini -_____-‘. Karena kita mesti nunggu buku ke-enamnya muncul dulu baru bisa menguak misteri dari keseluruhan serial termasuk Gelombang ini. Sekali lagi….BUKUNYA BELUM TERBIT! kyaaaaaaaa *cakar tembok tetangga*

Kalau ada yang bilang buku Dee-Supernova ‘berat’, bisa jadi. Karena dia tidak akan menyelipkan kata-kata bertuah filosofis nan romantis seperti karya-karyanya yang lain (Perahu Kertas, Madre, Filosofi Kopi, Rectoverso) kecuali barit puisi pada lembar pertama. Tapi kita akan langung difokuskan pada alur cerita yang campuran, naik turun, meliuk, gelap terang, persis seperti Gelombang 😀 . But actually i was so mature to read it *duileh* * 😛 Maksudnya saya sudah mengikuti karya-karyanya yang addicted, saya sudah bisa menebak seperti apa kemampuannya menulis fiksi ilmiah. Saya sudah jadi followersnya sejak Gelombang dalam rahim. Jadi kelahirannya memang seperti telah menyedot perhatian saya. Namun, saran saya, saran sih, kalau kamu belum benar-benar siap jangan terjun hihihihi karena bukunya…..ah sudahlah bacalah sendiri :mrgreen:

Sejauh kepandaiannya dalam meramu yang nyata dan fiksi, research mendalam dengan proses sunting yang saya yakin matang, dia berhasil membuat saya terjun dalam bukunya. Rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya rasakan ketika membaca Dan Brown, kerap muncul juga dalam membaca buku ini. Dan keduanya membuat kita harus ekstra sabar. Kenapa? Karena sampai setengah buku saya baru bisa merasakan addicted itu, sebelumnya proses memahami 😀 . Ya kayak orang pedekate gitu lah *halah*

Sayangnya kalau Brown langsung menghujam kita dengan ending yang dasyat di setiap bukunya, Dee seperti sedang membuang kail dan umpan. Endingnya sengaja disembunyikan di buku terakhir. Entah ini memang stategi pasar, stategi kegeniusannya mengolah karya atau entahlah.

Akhirnya saya hanya mau bilang. Saya sakau! tolong ya Dee dipercepat proses nulis Intelegensia Embun Paginya 😦 🙂

PS: Dukung Gerakan Indonesia Membaca
Dukung Karya Anak Bangsa
Majulah Sastra Indonesia

BTS Kelas Inspirasi Jatim #2: Berbagi itu Seru!

Huaaaaaaaaaaaaaaaa (#mewek) “sumpah alay”
Saat menulis ini, bener bener sambil pilih soundtrack yang pas bingit di hati, biar tullisannya ngewakilin hati, biar nyampenya juga ke hati para pembaca. Uhuk uhuk uhuk oke perbaikin posisi #lebay
Yup jangan protes ya kalo tulisan ini malah berisi curahan hati yang gak penting hehehe. Dee bilang menulis itu adalah proses yang panjang, maka tulisan ini juga telah melalui waktu yang panjang dan hasil yang juga panjang. Hahahaha Pardon me.

29 September 2014
Hari ini, harusnya saya terbang ke sudut kota bandung. Duduk manis, tersenyum penuh semangat menyambut orang – orang hebat. Mendapat ilmu dan inspirasi baru dari para jurnalist senior Indonesia, juga dunia. Dengan gegap gempita dan hati berdebar karena bahagia. Mimpi yang tertunda.

29 September 2014
Di sinilah saya, di sudut pelosok desa. Berdiri penuh semangat menghadap bendera merah putih dengan siluet mentari dari kibas daun mangga. Di sinilah saya, siap menginspirasi dan berbagi ilmu, melihat senyum ceria anak-anak bangsa bersama lebih dari 1540 relawan dari 30 kota kabupaten di jawa timur. Menyalakan mimpi anak Indonesia. Mimpi yang nyata.

Sudahkah ada yang memberitahumu? Hidup itu sebuah pilihan?. Dan setiap pilihan yang kita buat, akan mengantarkan kita pada pilihan-pilihan lain. Sudahkah ada yang memberitahumu? Memilih mana yang baik dan buruk itu perkara mudah?. Namun menentukan langkah pertama dari dua pilihan yang sama-sama baik itu teramat susah. Ya, Butuh kewarasan dan tafakkur mendalam. Butuh jiwa yang bersih, untuk bisa melihat kemaslahatan yang lebih besar diantaranya. Bahkan dalil Imam Syafi’i pun serasa tak bisa meredam gejolak di jiwa saya kala itu. Tapi toh kita tetap harus menentukan pilihan bukan ?!.

Sama seperti pilihan saya jauh sebelum tanggal 29 September 2014 ini. Keduanya adalah impian saya, impian yang telah lama mengakar menunggu bersemai. Kalau saja salah satunya bisa diundur? Atau mungkin saya bisa membelah diri menjadi dua seperti Amoeba? Ah konyol sekali hehe.

Hmmm tahukah kamu sudah dua tahun saya menunggu hari ini, penantian panjang yang sempat timbul tenggelam. Ya tahun 2013 sebenarnya saya sudah mendengar tentang Kelas Inspirasi yang sebelumnya telah mendengar juga tentang Indonesia Mengajar. Tapi berhubung Indonesia mengajar kerap menempatkan para pengajar mudanya di luar Jawa, yang notabene tidak akan mendapat restu dari orang tua, saya pun exited waktu tahu tentang KI ini.

Saya tetap bisa bekerja di sini, tidak bertentangan dengan orang tua, plus tetap bisa berbagi ilmu di dunia pendidikan! Seru? Haha tentu! Tapi karena saya tahunya juga telatttt, plus waktu itu sosialisasi media yang kalo menurut temen-temen panitia juga belum seheboh tahun ini, akhirnya saya ndak bisa ikut. Baik itu sebagai relawan pengajar maupun relawan panitia. Hiks hiks hiks.

Padahal tuuu…di detik-detik terakhir saya udah janjian mau ketemu di hari breafing (ikut jadi panitia) tapiiiii saya udah ditinggal aja sama panitia. hiks hiks. Secara ya belom begitu kenal sama panitianya, mereka mungkin juga udah rempong mikirin persiapan, jadi mungkin mereka abai. Jadilah saya pulang hohoho (tentunya dengan semangat tahun depan kudu bisa)

Alhamdulillah Tuhan selalu mendengar doa-doa hambanya :))) . Tahun ini terbayar dengan manis. See? Tuhan tu baik banget bukan?! selalu ngasih pengganti yang insyaallah lebih indah. Amiinn. Insyaallah.

Semenjak kepanitiaan belum terbentuk (halah sok tau) saya sudah mengikuti kehebohan KI 2014 di kota kota lain, karena pengalaman tahun sebelumnya yang gatot (baca: gagal total) membuat saya follow twitter KI termasuk KI Madiun hehe. Sampai akhirnya saya bertemu dengan panitia yang njelalah juga masuk di acara news tempat saya bekerja untuk talkshow tentang KI ini. Yah win win solution lah hehehe.

Yaudah deh dari situ makin akrab dengan panitia, eeee temenku ternyata juga gabung jadi relawan panitia, yawes makin tau lah tentang perkembangan KI Jawa Timur 2 khususnya di Madiun. Tapiii…… yaaaa yang namanya lastminute girl bener dah, udah tahu dari seumur jagung, eh benih deng, tapi belum juga daftar -____-“. Pekerjaan jadi kambing hitam hehe.

Yup emang njelalahnya juga suibuk banget, sampe gak sempet mikir, malah hampir maju mundur mau ikut apa gak, soalnya keadaan kantor yang mengkhawatirkan kalo ditinggal ijin hohoho. Dan juga karena ada undangan VOA Affiliates Conference itu T.T. Eeeee alhamdulillah lagi yaaa ternyata kepala department saya juga minat pengen ikut, pas tanya aku boleh ikut gak jawabnya boleeehhhh. Horeeeeeeee!!!!! :mrgreen: . Girang beneerrr… tapi teteup belum aplly ke website KI hoho. Padahal nih yaaa sebenernya dimintain jadi panitia juga bantu temen-temen, tapi tiap acara selalu pas aku gak bisa… yawes.

Daaannnn masih inget banget di detik-detik sebelum KI ditutup di hari terakhir pendaftaran, dengan essay yang dibagus-bagusin hehe sign up lah daku. Lately, ternyata diperpanjang katanya jadwal pendaftaran, hahaha untung gak tau yak, kalo tahu mah bisa lebih mepet lagi apply-nya hahaha. (skip please!)
And the storyyy began……..jeng jeng

Udah dinyatakan lolos. Yes. Udah mulai-mulai mikir mau digimanain ntar kelasnya waktu hari inspirasi. Pusing lagi. Secara banyak ide, tapi waktu kan terbatas, snewen kan ntar kalo adik-adiknya gak exited, trus garing gimane dooongg. Hadeeee sampe briefing yang notabene H-2 masih bingung, udah mulai kebayang sih sebenernya mau diapain kelasnya, tapi eksekusinya biar smooth masih bingung, udah buat—-mahkota ilmu pengetahuan, rainbow card, mau bikin pohon cita-cita juga , replika TV juga—-aahhh kemaruk lah hoho. Tapi akhinya beberapa di-cut, karena, satu, Lokasinya jauuhhh dan super fantastik (baca: naik turun khas pegunungan haha). Kite naik motor cuy. Dua, closing-nya udah ada cap cita-cita yawes diminimalisir, diubah lagi lesson plan-nya haha (rempoongg cyiinnn *kata-kata ini akhirnya jadi makin booming karena ada relawan fotografer kita namanya uchin :p)

Yaudahlah yaaa… namanya juga buat anak-anak musti perfect doongg. Harus pake hati, biar nyampenya juga di hatinya anak-anak, guru, dan semua relawan hehe.
Dan tibalah kita di due date. Aduh pake balada telat segala, semua rombel udah pada berangkat huftt. Padahal bangunnya juga udah dari sebelum subuh, tetep ajah mulek. Rempong karena satu mahkota kurang, trus mau print naskah eeee kabelnya malah mau kobong (baca: kebakaran) wuaduhh. Rusuh banget dah. Haha maappp yak teman teman.

CIMG4553

meski telat tetep poto-poto sebelum berangkat -_-

Dan benar saja, medannya super memacu adrenaliln! jalan menanjak, lika-liku dan sampe jatuh deh relawan fotographer kita yang nyetir sendirian huhu keeepppp spiiiriiiitttt!!!. Bagi saya pribadi medan ini justru bikin saya tambah semangat memberikan yang terbaik. Secara udah jauh-jauh, udah cuti kerja juga masak cuman lempeng ngasihin materinya hehe.

IMG-20140928-WA0013

selamat datang ladang menginspirasi

Alhamdulillah ya gak telat nyampe sekolah malah masih sepi hihihi guru-guru belum dateng. Yawes dah para relawan asyik beli jajan haha, Bu Lia (sang dosen) sama si Agung ( si peneliti primata) juga si dani (fasilitator), darmawan (sang ahli programme development), sama yeni (fasilitator) langsung addict ngrubungin tukang jualan pentol hahaha. Kapan lagi kaann merasakan jadi anak SD sungguhan. :p

*CIMG4574

sempatkan njajan dulu ya kakaknyaaaa ^^

sempatkan njajan dulu ya kakaknyaaaa ^^

The True Fight dimulaiii…..
Kegiatan diawali dengan pasang-pasang spanduk dan narsist haha.

Sebelum dipasang foto sama banner duluuu hihihihi

Sebelum dipasang foto sama banner duluuu hihihihi

IMG_9932 IMG_9933

Upacara pun dimulai, amazing-nya meskipun berada di daerah pelosok ternyata sudah menggunakan billingual untuk prosesi upacaranya. Memang udah kelihatan sih dari kepala sekolahnya waktu briefing dan dari bangunan yang udah lumayan bagus untuk dareah yang cukup terpencil ini. Tapiiiii ada yang bikin nyesek jugaaaa T.T adik-adik paduan suaranya—not in Not a.k.a pitchies—nyanyiin mengheningkan ciptanya hiks hiks.
Gak false sih cuman nadanya meleset-meleset gitu, ada yang kurang tinggi dan ada yang memang salah melodi. Gemes sekaligus miris, ya ampuuunn gini neh pentingnya seorang ahli mengambil peran mengajar. Apalagi ini anak kan masih SD yaaa, kalau udah salah kan bisa kebawa sampe gede huhuhu. Dan itu tu lagu wajib loohhh kok gurunya juga gak briefing sih huhuhu. Atau bisa jadi gurunya juga kurang ahli dalam mengajar bernyanyi, atau mungkin muridnya susah nangkep. Secara yaaa lagu wajib sekarang kalah sama lagu korea dan dangdut koplo -________- . Semoga ntar kalo ada kesempatan ngajar, bisa benerin ya, dan ngajarin anak-anak lagu-lagu yang sepantasnya didengar oleh anak-anak seusianya aminnn.

Usai upacara kita perkenalan singkat gitu hehe . Ada ibu Arielia Yustisiana yang mengenalkan dirinya sebagai dosen, ada Darmawan Lahru Riatma sebagai seorang kepala cabang di bidang software dan games programming, ada Agung Imansyah seorang peneliti primata dari Bogor dan aku sengaja sok sokan cuman bilang anchor gitu biar anak-anak penasaran padahal gak ada yang penasaran hahahahadeeeee.

Selesai upacara ketemu dulu sama guru-guru, permisi lah ya buat ngubek-ngubek kelasnya hahaha. Yaudah abis itu langsung cusss masuk kelas. You know what? Semua keluar dari jadwal. Fiuh. Ane kebagian kelas dua di jam pertama gituuuu. Gimana gak snewen coba, masak udah di kasih kelas belia waduuu entar kalo mereka gak nyaut diajak ngomong gimanaaa -_-.

But surpriseeeeeee sungguh mood booster-nya justru di kelas iniii, hehe bocil-bocil ini (baca: bocah kecil) langsung exited sama akuu, pas kenalan tentang profesiku. Pas aku nunjuk peri ilmu pengetahuan dengan mahkota yang udah aku buat hehe. Mereka semangat sekali meski malu-malu.Tapi memang agak pada belum ngerti ya pas aku ajak games tebak gambar siapakah akuu hehe. Secara masih kelas dua, mungkin verbal dan logikanya belum segitunya paham istilah kepala negara, kepala kabupaten hihihi. At least it done nicely. :))))

IMG_20140929_103701

praktek tebak gambar bersama peri ilmu pengetahuan

Apalagi saat aku mulai mengeluarkan senjata a.k.a mic, tripod, handycam, dan logo Ngranget TV, SD tempat kami mengajar (yang sengaja aku buat biar mereka merasa punya TV sendiri jadi berasa crew beneran). Hmmm mereka langsung sumringah ajah gituh. Wow, pada rebutan pengen jadi presenter hahaha. Pada pengen megang semuaaaa, praktek jadi broadcaster. Sampe ada yang nangis gegara desek-desekan hihihi untung yak ada wali kelasnya yang masih muda dan super imut hihi… ikut-ikutin videioin anak-anak juga yang lagi praktek hehehe (meski pake hape).

itu dia wali kelasnya yang sweet ^^ tapi lupa namanya -_-

itu dia wali kelas 2 yang sweet itu ^^ maaf lupa namanya -_-

Hahaha dan saking riweuhnya yaaa sampe gak kerasa kalo waktunya udah over ahahha panitia rusuh bolak balik masuk kelas ngasih tau waktu abisss hahaha padahal anak-anak masih belum puas praktek. Yaudah deh pengalaman kelas sebelumnya, kelas berikutnya langsung mempersingkat waktu biar pesan utama KI untuk menanamkan nilai kejujuran, pantang menyerah, kerja keras dan disiplinnya nyampe ke anak-anak. Plus doa yaaa biar cita-citanya diijabah Allah amin. Jangan lupa juga rajin membaca ^^

pengenalan peralatan untuk shooting

pengenalan peralatan untuk shooting

praktek merekam gambar

praktek merekam gambar

proses shooting dimulaiii ^^

proses shooting dimulaiii ^^

anak-anak praktek menjadi seorang reporter presenter dan mewawancarai narasumber

anak-anak praktek menjadi seorang reporter presenter dan mewawancarai narasumber

Hahaha sampe lupaaa ngasih hadiah ade-ade. Tapi ya kebalik gitu kelas atas 4,5,6 malah suka malu-malu pas diajakin praktek, padahal pas poto bareng pada gaya semuaaaa hahahahaha (narsist mah tetep kakaaa :p ) .

DSC_1148

Akhirnya di sini hadiahnya cukup berguna buat jadi mood boosternya anak-anak. Dan setelah semua selesai mengajar kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan cap lima jari warna-warni yang disisipkan nama dan cita-cita. Gak cuma anak-anak loo, para fasilitator dan relawan pun ikut melakukan cap jari. Alhamdulillah tidak lupa kamipun foto bersama 😀

semua sibuk cap lima jari

IMG_4825

semua sibuk cap lima jari

IMG_4828

dan nulis nama serta cita cita mereka

IMG_4816

IMG-20140929-WA0025

numpang narsist hihihi

Well, buat relawan semua, yang tahun depan mau ikut juga, emang menurut saya penting untuk bawa peralatan sesuai profesi, serta menciptakan learning aid yang menyenangkan. Karena anak-anak akan mudah bosan bila kita hanya nyerocos teori doang. Sebisa mungkin saya membuat mereka bisa mengalami menjadi seorang broadcaster. Untuk itu saya melibatkan anak-anak untuk praktek langsung memproduksi sebuah tayangan.

sedia senjata sebelum berperang

sedia senjata sebelum berperang

Jadi ada yang saya posisiskan menjadi reporter, ada yang jadi presenter, cameramen, floor director dsb. Memang tidak semuanya bisa dipraktekkin, dan kadang susah juga membuat learning aidnya. Tapi yang terpenting tidak hanya sekedar narsist mengenalkan profesi kita, tapi juga menanamkan nilai-nilai semangat meraih mimpi, dan melecut motivasi mereka untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Siapalah saya, hingga bisa berdiri dan menginspirasi seperti ini. Saya hanya berusaha mewujudkan mimpi saya dan berbagi. Maka campur tangan Tuhanlah yang menentukan.

Ingat kan bumi ini memiliki gaya tarik-menarik. Bila kamu terus meng-upgrade diri, selalu menuju kebaikan, insyaallah, juga akan dikumpulkan dalam hal-hal yang positif. Amin.

Finally, Meski 29 september 2014 ini saya gagal mengikuti VOA affiliates conference yang entah kapan lagi ada, namun saya tidak menyesal. Apalah arti memperkaya keilmuan diri, jika tidak bermanfaat? Jika semua jadi presiden, lantas siapa yang akan menciptakan presiden-presiden selanjutnya? Salut sama para penggerak pendidikan. Meski sedih itu tetap ada. Tetapi, Di sini sayapun bertemu banyak sekali orang-orang hebat. Saya tidak hanya menginspirasi tetapi mendapatkan banyak inspirasi baik dari relawan, fasilitator, guru bahkan dari anak-anak ini. Kepolosan mereka, wajah-wajah haus ilmu, membuat saya kembali bersemangat untuk terus belajar dan terus bersenyawa meraih cita-cita.

Saya yakin semua yang bergerak untuk mensukseskan Kelas Inspirasi di seluruh Indonesia khususnya KI Jawa Timur 2 Madiun ini adalah orang-orang hebat. Orang – orang yang tidak hanya memajukan pembangunan bangsa melalui keahliannya, namun juga memiliki sosial responsibility yang tinggi. Orang-orang yang sadar makna iuran kehadiran. Terimakasih semuanya, Semoga kita dipertemukan kembali dengan cerita yang berbeda. Indonesia butuh kalian semua.

bersama para guru serta relawan Kelas Inpirasi Madiun #KIJatim2 Dari kiri Uchin (fotografer), Dani (fasilitator), Darmawan (Inspirator), Agung (inspirator), Yeni (Fasililator), Aurelia (Inspirator), saya, Ida ( fotografer)

bersama para guru serta relawan Kelas Inpirasi Madiun #KIJatim2
Dari kiri Uchin (fotografer), Dani (fasilitator), Darmawan (Inspirator), Agung (inspirator), Yeni (Fasililator), Aurelia (Inspirator), saya, Ida ( fotografer)

ketahuan kaannn guru gurunya juga suka narsist :"D

ketahuan kaannn guru gurunya juga suka narsist :”D

before chaos

before chaos

will miss this much :*

will miss this much :*

Sudahkan ada yang memberitahumu?

Jika profesi itu panggilan hati, maka menginspirasi itu adalah kebesaran jiwa.

Photo credit TIM KI SD Ngranget Madiun JATIM 2

e-book KI: Profesi itu Panggilan Hati, Menginspirasi itu Kebesaran Jiwa

Taraaaaaaa……

ini dia ebook yang dibuat temen-temen panitia Kelas Inspirasi Madiun #2 🙂 . Makasih teman-teman meskipun tulisannya jadi loncat-loncat karena keterbatasan karakter haha. But it’s done nicely lah :*

Maap ya belum bisa nulis lengkapnya hehe nanti ya di posting berikutnya insyaallah amin 😉

Enjoy 🙂 🙂 🙂 🙂

berasa jadi artis TOP bacanya nyiahahaha :mrgreen:

berasa jadi artis TOP bacanya nyiahahaha :mrgreen:

Kenalan dengan Rujak Cingur

……..
Sopo ngerti nasib awak lagi mujur
Oleh kenalan bakule rujak cingur
…….

Sejak lama mendengarkan lagu itu, rasa penasaran saya kian muncul timbul tenggelam apa sebenarnya rujak cingur itu. Meski saya orang Jawa Timuran namun nyatanya belum semua jajanan khas Jawa Timur saya cicipi. Bahkan saking beragamnya sebutan untuk makanan yang sebenarnya sama, membuat pemahaman ini terlampau kurang. Inilah Indonesia, Satu Nusa Seribu Budaya. 🙂

Di Indonesia sendiri banyak sekali penganan yang disebut dengan rujak. Ada rujak buah yang sebagian menyebutnya rujak dulit, rujak pasah atau sawut, rujak sayur yang disebut rujak petis atau rujak cingur ini, bahkan sebenarnya ada juga turunan makanan yang juga bisa dikatakan masih family rujak-rujakan 😀 (munkin ini bisa dicarikan bahasa latinnya 😆 )

Kembali lagi ke–rujak cingur–(sengaja ngolor cerita biar nahkasnya panjang. Halah. :mrgreen: ) . Karena tak tau dan belum pernah tinggal di kota spesies makanan ini berasal terjadilah percakapan ini di suatu waktu.

Me : buk, rujak cingur niku nopo nggih?
Mom : ya rujak nganggo cingur!
Me : lha bentuk e pripun?
Mom : yo koyo rujak petis!
Me : lha bentene kalian rujak petis nopo?
Mom : nek rujak cingur iku nganggo cingur nduk!
Me : cingur niku nopo ta buk?
Mom : cingur ki ya cingur!?!
Me : ……….. (krik krik krik)

Dari situ saya berkesimpulan bahwa ibuk saya juga bukan ahli Botani (ya jelas). Mmmm, mungkin belum pernah nyicip juga 😀 :magreen: 😀 . Ya sudahlah saya tidak mau memperpanjang masalah apa itu cingur dan rujak cingur. Kalau jodoh pasti bertemu. Hihihihihi.

……………
Sopo ngerti nasib awak emang mujur
Oleh kenalan jenenge rujak cingur
……………

Begirulah disuatu siang, di sebuah warung di sudut Kota Pecel. Kawan saya tidak pesan pecel (nah lho?!). Tapi rujak cingur 😛 . Disitulah saya bertanya dengan si penjual. Apa sebenarnya rujak cingur. Ternyata kembali lagi terngiang jawaban.

“Ya rujaknya pakai cingur mbak”
Dan persis seperti yang pernah saya lontarkan pada ibu saya, “cingur itu apa ya buk?”
“cingur itu….”

rujak dengan potongan cingur ^^

rujak dengan potongan cingur ^^

Oooalaaah ternyata cingur itu lidah sapi sodara-sodara 😀 . Waduh, saya kira dulu itu cingur sejenis petis, atau bumbu khas rujak itu. Rupanya cingur adalah bahan pelengkap, complement atau tambahan dalam adonan rujak yang telah penuh sesak dengan sayur mayur dan lauk pauk seperti tempe dan tahu plus ulekan kacang tentunya.

Cingur, mungkin semacam kikil (makanan dari kulit kambing atau sapi atau kerbau yang telah direbus dan dibersihkan) pada beberapa rujak petis yang juga diberi lontong di belahan bumi lain. Penampilannya ternyata cukuplah mirip dengan rujak petis. Hanya saja ada tambahan yang disebut dengan cingur itu tadi.

Secara tidak langsung, sesungguhnya warga indonesia itu adalah koki-koki handal. Satu makanan saya bisa hadir dengan berbagai garnish dan sensasi yang berbeda-beda. Bahkan juga nama . 🙂

Kreatif: Pakan Lele Alternatif

Langit masih cerah kala saya meroda menuju belahan bumi magetan. Di Desa Bendo, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, deru mesin penggiling tumpang tindih dengan bunyi kicau burung yang masih bercengkerama di semak pohon yang belum terpapar sengat matahari. Di rumah yang juga tempatnya memproduksi pakan alternatif, pak Didik muncul dengan kaos polo putih dan topi kotak-kotaknya. Sudah macam seniman saja hehehehe.

behind d scene :p

behind d scene :p

Tapi lelaki paruh baya ini bukanlah seniman. Dia adalah orang desa biasa yang menjadi petani tebu, juga peternak lele. Bedanya ia berusaha melebihkan usahanya sehingga terciptalah sebuah kreasi yakni pakan lele alternatif. Setelah sedikit kenalan dan basa-basi sayapun diajaknya melihat langsung proses pembuatan pakan alternatif ini. Rupanya cukup sederhana.

Awalnya ia sempat mendapat cibiran dari beberapa kalangan, namun ia membuktikan bahwa usaha lele yang ditekuninya akan sukses, lalu iapun mencari cara agar pakan yang selama ini menyulitkan para peternak lele mendapat untung maksimal dapat ia ganti. Setelah sharing dan searching sana-sini, akhirnya ia mendapatkan kompilasi yang pas untuk pakan hewan bersiripnya.

Dengan mencampurkan 50 kg tepung gandum, 25 kg tepung roti dan 50 kilogram tepung ikan. Jadilah sebuah kombinasi pakan ternak yang ujarnya bisa menghemat hingga lima puluh persen biaya pembelian pelet yang siap jadi di pasaran. Dengan menambahkan air secukupnya atau sekitar 21 liter, adonan tadi dicampur hingga rata, bahkan bila kesulitan mendapatkan tepung ikan, bisa juga diganti dengan ayam tiren. Tujuannya adalah agar nutrisi pakan tetap memadai untuk budidaya ikan.

Campurannya pun harus pas, tidak boleh terlalu lembek agar dapat dicetak dengan sempurna sehingga menjadi buliran-buliran pakan seperti pelet pada umumnya. Barulah kemudian dikeringkan di bawah terik matahari.

Matahari masih saja bersembunyi dibalik awan, separuh haripun terlewati dengan menilik proses pembutan pakan alternatif pak Didik bersama kedua karyawannya. Sederhana tapi mengena. Saat akhir kunjungan dihabiskan dengan cerita sana-sini saya jadi inget temen-temen yang juga sedang melakoni bisnis di belahan bumi lain. Mereka juga sedang meretas mencari inovasi baru, mengumpulkan sejumlah keoptimisan, kekerabatan, kepercayaan dan keuletan. Meraka coba membongkar pagar yang disebut buruh. Buruh di perusahaan, pabrik, rumah tangga, atau di pemerintahan. Mereka mencoba mandiri melaju menggayuh kapal yang pasti akan sampai di dermaga. Dermaga itu bernama bahagia. Berhias kesuksesan. Yang kata orang kesuksesan punya banyak arti bukan hanya materi. Kebahagiaan yang hakiki.

Banyak cara, banyak rupa. Masing-masing orang mencoba menyelami dan menangkap kesuksesannya masing-masing. Kalau kita saja sudah sukses menunggang sepeda, pasti kita juga bisa bangkit dan berkarya.

Tuhan tidak menuntut kita menjadi yang terbaik tapi melakukan yang terbaik. Mungkin kita sudah melakukan semua yang terbaik namun manusia selalu mempunyai tingkatan yang selalu berubah. Mungkin kini baik yang dulu kita pegang sudah berbeda dengan baik yang sekarang diperjuangkan. Asal itu bermanfaat dan tidak menyalahi koridor tentu Yang Esa membantu kita. Amin.
Selamat berjuang 🙂 ganbate :mrgreen:

Dan deru mesin kembali beradu di jalanan menuju kota pecel.