Susur Saraha?

Saraha? Sahara? Whatever! 😀

Lagi-lagi aku harus bertanya dahulu sama diri aku sendiri kenapa milih judul nungging eh nanggung gini? 😛 Aku jawab: Pengen ajah. Udah. Gitu ajah. Halah. :mrgreen:

Totally emotionally. Hmmmm…setelah sempet ngerancang sebuah pelarian diri dengan booking temen buat ngeculik aku dan ternyata GATOTTTTT…totally failed akhirnya acara ngopi pun ter-pending dengan stress yang makin berkepanjangan. Fieuhhhh.

Secara sudah beberapa pekan terakhir tuh yah, kerjaannya antara galau dan gelandangan berseragam L . Akhirnya ditengah pertahanan benteng takhesi (pinjem istilah game show jepang, pernah nonton gag?) yang hampir jebol, akhirnya jadi juga mergawe 😳 dan terpaksalah malam itu saiyah (baca: saya) tidur dengan kepala hampir migren. Hmmmm.

Next to morning…….

Berangkatlah aku dengan sedikit masa bodoh namun secercah harapan 😛 . Petualanganpun berlanjut mencari lika-liku jalan yang masyaallah berapa kali nyasar yak? 😀 . secara otak ku yang anti mengingat jalan, nama, dan barang rerenik lain harus saja kerja extra keras siang itu. Dan setelah berdebatan panjang di telepon yang sebenernya aku cuma jawab ’ya-ya-ya’ doang! desa bla…bla…bla… dukuh bla…bla…bla…ketemu di bla…bla…bla…menguap tanpa beban. Kalau orang lain masuk kuping kanan keluar kuping kiri nah ini, masuk kuping kanan keluarnya juga kanan kali yak. Sungguh saya nyeraaaaaaaahhhhh. Sebenernya ini kebiasann yang tidak patut ditiru. Membiarkan otak kita melemah dengan tidak mau megingat.

Tut tut tutttttt…… ocehan diseberang telah berhenti. Nah giliran otakku yang berkicau, tadi tempatnya diana yah? Ketemu dimana yah? Sebelah lapangan apah yah? . Dengan alah mboh-nya aku berangkat berperang hohoho. Alhasil harus tanya sana-sini biar tak dikata sesat dijalan dan berakhir malu 😳 . Dan setiap kali berhenti bertanya, lagi-lagi otakku dipaksa untuk INGAT!. Dan WOW! Berbekal note di hape dan terus saja dikumandangkan, kali terakhir tak lagi harus buka note di hape. Dan aku berkesimpulan bahwa–tidak cukup satu informan untuk dapat menemukan sebuah lokasi. Lhah wong awal tanya warga, ”terus mbak, mentog nanti nganan…” oke aku ladenin lhah pas waktu ketemu jalan simpang empat, rada mikir, belok apa terus yah? Mana mentoknya? Yaudahlah yah terus ajah, kan suruh mentok! meski jalan di depan berupa makadam (jalan berbatu) menuju persawahan. Karena tak mau tersesat lagi, saat tanya ke warga lagi eh ternyata bener perempatan tadi nganan hadeeeehhhhh!. Balik agiiihhhh. *numpang alay 😛

Sebelumnya juga, pas tanya warga katanya nanti ngikuti jalan ke kiri, lhah pas tanya lagi ternyata kebablasan, pas balik lagi masih kurang beberapa meter lagi. Lhah yo nyetrika jalan ini namanya. But at least, ketemu juga lokasi yang dituju, dan langsung cap cus deh.

Next to Sahara….

Bukan! Bukan gurun pasir nan eksotis di timur tengah itu yang aku bicarakan. It is just like a personification. Nyesel kan dikau udah baca sampe sejauh ini dan KECEWA 😀 . gua harus bilang I-D-L-itu-derita-loe 😆

Lokasi selanjutnya adalah hamparan tanah kering dan jalanan bertanah kuning yang mengepulkan debu saat roda kendaraan berderu diatasnya. Hooooohhh. Tapi kali ini tidak perlu pake nyasar lagi secara sang kapten sudah bersama. 😀 . Ngeliat fenomena tandus yang seperti gurun ini rasanya malah pengen poto-poto gitu. Ngebayangin sengaja pake pakaian warna kontras nan kinclong dan poto-poto lengkap dengan make up di wajah. Udah kayak take a picture sampul majalah beneran gitu. Hohoho ngayal :mrgreen: . Padahal cuaca lagi garing-garingnya. Mana ada yang mau gosong-gosongan demi ayalan aku!.

Dan terlepas dari segala curhat aku yang gag penting ini lengkap dengan segala kekacauan bahasa dan keruetan alurnya 😀 aku harus bilang, bahwa aku senang. Karena:

Satu, paling tidak turun lapangan itu lebih bisa bikin olahraga daripada menyicil gejala stroke akibat tersumbatnya saluran saraf otak karena kejenuhan dan ketidakpastian berkepanjangan. Fieuhhh.

Dua, waktu ketemu adek-adek berseragam pramuka pulang dengan wajah polos dan sedikit nakalnya ituh, tapi saat aku bilang “sekolah seng pinter ya…!” dan mereka jawab “nggih mbak…!” serasa ada kekuatan yang meneguhkan aku bahwa cita-cita itu penting, ilmu itu bak oase di tengah gurun sahara. Sambil ngasih selembar lima ribuan buat mereka beli es seraca berucap dalam hati—ijinkan hamba menimba ilmu lagi ya Rabb—dan kutinggalkan riang polosnya mereka mengayuh sepeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s