Labirin Cinta di Kilometer Nol

GREAT!!!

Bener-bener otak, perasaan dan semua raga serasa disusupi curiosity. Adriana: Labirin Cinta di Kilometer Nol, benar-benar membuatku terpaku dan tak tahu apa sebenarnya sekian hari membuatku penasaran. Kesibukan dan tugas-tugas seakan terlewatkan ketika aku menyelami setiap baris katanya. Bukan sebuah novel misteri, juga bukan novel cinta yang menguras air mata, namun lebih dari itu novel ini diselumuti banyak teka-teki, misteri sejarah, dan cinta yang ringan namun sarat makna yang berpadu secara apik dalam novel ini. Sampai setelah selesai membacany pun aku masih dihantui rasa bingung dan penasaran and this…I really don’t know, ada something yang sepertinya masih tetap jadi teka-teki yang aku sendiri juga gak tau apa dan gimana jawabnya.

novel ini memang menceritakan tentang kisah cinta anak remaja pada umumnya. Tapi dari beberapa novel cinta yang pernah aku baca, ceritanya menurutku cukup biasa, ringan-ringan saja. Tapi yang membuat novel ini GREAT adalah kita seakan dibawa berpetualang dengan ikut mencari kawaban atas teka-teki cinta yang diberikan oleh Adriana kepada cowok pecinta football (Mamen) yang gak suka pelajaran sejarah karena dia akan migren setelah darah rendahnya kumat akibat terlalu ngoyo mendalami sejarah. Hahaha…berasa aku banget nech, gak suka sejarah! :P. Tapi Fajar Nugros dan Artasya Sudirman berhasil membuat aku melek sejarah. Bahwa masih banyak sekali sejarah-sejarah dan rahasia penting tentang Indonesia terlebih kota Jayajarta a.k.a Batavia a.k.a Jakarta.

Jadi berasa malu banget sebagai generasi muda tapi lupa akan pahlawannya, hingga kita bisa merdeka sekarang ini. Tapi nampaknya tidak hanya sejarah Indonesia saja yang disisipkan dalam novel ini, namun juga potongan sejarah Kerajaan Perancis dan sains ikut mewarnai dan membuat pembacanya berputar-putar sekaligus takjub dengan pengetahuan pengarang. Sungguh makan gado-gado yang uenak. Terbukti ketika Mamen cowok yang digilai Adriana ini mendapat teka-teki “…tempat dimana anak panah arjuna berada…” dan anak panah arjuna yang dimaksud disini adalah nama tumbuhan Syngramma alyifolia yang merupakan tanaman obet untuk penyakit hati. hayi belum pada tahu kan sebelumya? hehehe 😛

Sungguh membaca novel ini seperti setengah sadar ini cerita nyata atau sekedar fiksi. Seolah-olah novel ini dalam beberapa bagian terlihat seperti mencoba mengadaptasi dan mengulang kemabali bagaimana situasi saat sejarah itu berlangsung pada masanya. Alurnya yang campuran, berputar-putar dari masa sekarang ke masa lampau kembali ke masa sekarang dan terus seperti itu kadang membutuhkan extra energi untuk mendalami maknanya.

Dan lagi-lagi kecanduanku mencekat karena novel ini juga menyingkap ketulusan ki Hajar Dewantara dalam pengabdiannya, serta Adriana dan beberapa tokoh disini yang juga digambarkan sebagaio sosok guru yang dengan segenap jiwa raganya berusaha membuat murid-muridnya menjadi manuisa-manusia hebat yang akan mendapatkan mimpinya. Hmmm kena lagi kan diriku, berasa banget dach teaching practise least. Heuheu.

Semua berawal saat Adriana mengetahui cowok pujaannya itu disibukkan mengunjungi perpustakaan Nasional untuk penyelesaian thesisnya. Dan tentu saja obsesi cinta yang harus dikejar, diapun membuntuti si Mamen ke perpustakaan Nasional. Tapi celakanya ketika di lift si Mamen malah gak inget sama sekali siapa Adriana, zewek biasa yang mengaguminya sekaj SMA yang sekarang telah berubah menjadi perempuan cantik dengan sejuta pesona. Dan seperti kebanyakan laki-laki, Mamen terpikat karena kecantikannya kini. Dan bruuukkk…. Adriana pura-pura menjatuhkan tumpukan buku dalam pelukannya agar mendapat perhatian dari Mamen. Dan tentu klisenya, Mamen fall in love at first sight dan pengen ketemu lagi dengan Adriana. Dan karena gengsinya wanita yang selalu ditinggikan, akhirnya Adriana menjawab dengan sebuah teka-teki

jika karpet itu berganti lima kali, aku akan menjumpaimu di tempat dua ular saling berlilitan pada tongkatnya, saat proklamasi dibacakan

and the answer is lima hari setelah mereka bertemu, di taman belakang Stashuisplein Musium Fatahillah pukul 10.00 pagi.

Udah tahu kenapa jawabannya gitu? Yup karena karpet perpustakaan Nasional diganti setiap hari, dan kenapa dibelajang museum? karena disana ada patung hermes yang membawa tongkat yang diliti dua ular yang diadopsi sebagai lambang kedolteran Internmasional, dan saat dibacakannya proklamasi adalah jam 10.00 pagi kan? So…

Aku juga pusing dengan teka-teki yang banyak dalam novel ini, gak nyangka aja kita akan disetting layaknya detektive conan atau Sherlock Homes memecahkan misteri pembunuhan hehehe… Dan masih banyak lagi teka-teki yang akan mengarahkan pertemuan mereka di kilometer nol.

Sudah tau dimana itu? Jawabannya adalah dimana Golden Woman Fire berada! Tempat dimana cinta mereka akhirnya menyatu.

Hehe maaf ya jadi ikut-ikutan bikin teka-teki tapi kamu yang suka baca dan ingatan cemerlang atau mungkin kaya pengetahuan pasti tau hehehe…

Atau langsung baca aja novelnya hihihi…

Advertisements

5 thoughts on “Labirin Cinta di Kilometer Nol

  1. Pingback: Ramayana dalam Sepotong Hati Yang Baru | life record

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s