Mood Block

“Tidak ada pekerjaan yang enak dan mudah”, tutur boss ku kala itu. “Semua pekerjaan membutuhkan totalitas dan loyalitas untuk bisa bertahan dan menghasilkan yang terbaik”, imbuhnya samar-samar dengan tak kucerna secara mendalam. Yup tentu saja karena disini aku tidak menganggap ini bekerja, tapi belajar. Kalaupun aku mendapat ganti bensin itupun aku anggap berkah dan sedikit manisnya impian yang mulai terbentuk indah. Yah indah. Indah sekali.

Mungkin kamu melihat orang-orang berangkat pagi pulang sore dengan tas dan pakaian rapi. mungkin dilengkapi juga dengan motor dari kantor. Melenggang penuh senyum menghadapi klien terasa begitu indah. Karena mungkin benar pepatah ini Rumput tetangga selalu lebih hijau. Sialnya kalau kau tahu bagaimana mereka termasuk aku disini begitu berjuang untuk tetap mood dan loyal dalam melakukan pekerjaan. Bagaimana mereka sebenarnya mencoba bersikap manis didepan semua orang. Tentu saja tuntutan kerjaan. Bagaimana mereka berusaha menyelesaikan deadline. Tentu saja biar bisa makan.

Aku sendiri tidak pernah tau bahwa ternyata yang kujalani ini bisa disebut sebagai sebuah – pekerjaan- awalnya saat masuk kampus aku cuma ngebet pengen jadi announcer. Itu hal yang aku dambakan sejak dulu. Keren banget gak sih bradah sista. Mengudara dengan ceria dan seolah dekat dengan semua orang. Berasa exist gitu. Hehe :p itu dulu. Setelah masuk dan aku merasakan sungguh menantang, mengsayikkan. Disibukkan dengan membuat script yang benar. Bertutur yang gak boosy. Belajar produksi. Hal-hal tetek bengek yang dianggap sebagian peserta sulit, menyebalkan, bertele-tele, boss yang bukan main bawelnya, kebanyakan teori serasa begitu indah kujalani. I’m lovin’ it much better. Tapi…itu dulu.

Setelah lama aku berkutat, masalah mulai timbul. Tetep stay cool dong. Secara teman-teman ada buat tetep saling support each other. Tapi lama-kelamaan hal yang bersifat belajar ini juga membuat beberapa dari kami merasa diintimidasi. Hidup terasa seperti dikurungan. Setiap menit dan detik seperti diintai dan diborgol oleh tuntutan-tuntutan. Damn! dan merekapun yang benar-benar tak kuat akhirnya keluar satu-satu. Aku masih tetep stay cool. Sampai pada tahun kedua yang kurasa begitu moody. Bukan karena tuntutan. Tapi entahlah. Masa-masa belajar. Hal-hal baru yang terasa curious. Tantangan-tantangan tiba-tiba entah kemana tak muncul lagi. Semua stagnan. Jalan ditempat. Sampai pada otakku yang juga mulai menolak hal-hal spirit untuk melakukan yang terbaik.

Gimana aku keteteran cari materi buat sekedar cuap-cuap. yup di radio kami memang diharuskan ada materi, sesuatu informasi atau apapun yang bernilai manfaat buat pendengar. Jadi bukan melulu haha hihi membacar sms dan request. gimana less powernya sehingga kehabisan entry yang freezy. Dan lain-lain yang membuatku merasa tercekik. Aku dibayar tapi tak bisa lakukan yang terbaik. Sial!

Begitu pula dengan side job-ku yang satu ini. Halah berlagak gaya bilang side job. Jelas-jelas pengacara tulen a.k.a pengangguran banyak acara :p . yup aku sempet gak sengaja juga buat ikut pengen belajar gimana mengkreat sebuah event dalam hal ini bergerak dibidang buku. Maka jadilah aku Book Ranger disalah satu Event organizer dari Jogja. yup sebuah tantangan baru, dunia baru, teman baru dan segala yang terasa begitu baru. Tapi tentu menyenangkan! menyenangkaaaaannnn! :D . gimana aku terdampar sebagai devisi acara. Gimana aku sempet syok bahwa dalam sebuah event berskala besar itu yang melibatkan ratusan penerbit, pegawai pemerintahan, sejuta publik hanya dikerjakan oleh tidak lebih dari sepuluh orang. Gokiiillll plus kereeeennn :p . Bangganya aku waktu itu. Berasa jadi the most cool person hehe.

gimana aku harus mempersiapkan semua surat yang akan melayang keseluruh sekolah kota dan pelosok yang ada di kota ini. Bagaimana aku melobi sekolah range1 untuk mau mengirimkan murid-muridnya berwisata buku. Bagaimana aku harus bernegosiasi dengan para pengisi acara yang mau tampil diacara kita. Bagaimana mengcreate lomba hingga banyak yang daftar. Dan bla…bla…bla… laen yang sungguh membuat aku tidak bisa tidur tengah malam. Bangun pagi dengan tuntutan-tuntutan. Tapi aku juga menikmati itu. Menikmati bagaimna aku terus berkoneksi. menikmati saat-saat menanti semua orang tidur dan kamipun beraksi memasang rontek dan poster disekujur tubuh jalan. Bagaimana harus kucing-kucingan dengan satpam atau promo laen yang juga gak mau dengan mudah meloloskan kami. huhuhu.. itu begitu terasa Show Time bangeeettt!. Tapi kawan lagi-lahi aku harus mengakui itu dulu. Dulu! Dulu! dan Dulu!. :(

Sekarang aku bertanya dan tak temukan jawaban kemana diriku yang dulu. Kemana semua rasa excited-ku yang selalu haus tantangan  . Apakah karena ini sudah tahun kedua. Kali keempat aku ikut Bookfair ini. Shit! Aku kalah oleh pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Batasan-batasan ya ng aku buat sendiri. Aku down :cry: . Aku kehilangan gairah. dan ini parah, parah, parah !. Aku less spirit stadium empat. Edan!. Kalau seorang penulis bisa kena writer’s block, mungkin kini aku kena mood block!.

Dan ini protes besar-besaran dalam batinku. Aku terus dan terus mencoba stay cool tapi gagal. Disaat banyak orang-orang yang membutuhkan uluran pekerjaan, aku malah mendendang dengan malas menggarap project ini. Semua yang aku bilang indah dulu jadi terasa memuakkan. Deadline-deadline yang harus segera terpenuhi tercampakkan. Aku jadi sangat tidak menikmati pekerjaanku.

Nah lho lha ini aja yang dulu adalah dreams-ku bisa begitu saja terelakkan dari pikiran. Bagaimana nanti kalau benar-benar terjun didunia kerja. Aku mulai merasa, kalau tantangan telah berhasil kurasakan semua aku mulai bosan. Padahal setiap masalah yang sama punya punya penyelesaian yang berbeda. Karena berbeda memulainya. Dan tantangn yang aku anggap semua, sebenarnya belum semua. Karena tantangan terbesar ya mengalahkan diriku ini. Aku tau teorinya. Harus bertindak begini. Lakukan yang itu. Stop dreaming, let’s doing. Tapi rasanya semua itu begitu bebal diotakku. Mandeg. Mampet.

Inilah salah satu alasa kenapa ku sering mengelak untuk benar-benar melamar pekerjaan. Karena aku selalu merasa dititik kejenuhan pada suatu waktu. Dan kalau sudah begitu aku menggila. Tak dapat bekerja dengan normal. Aku benci system. Terpikir untuk jadi owner, hidup kuatur sendiri. Cara kerja atan perintah otakku sendiri. tapi bukankah seorang boss justru punya tanggungan yang lebih berat. Bagaimana tetep cool dan bersemangat mengembangkan bisbisnya demi tidak kalap dengan pasar. Bagaimana tetep ok untuk bisa mengidupi para pekerjanya.

Huft aku disleksia. semua bayang-banyang ketakutan berputar-putar di otakku. Aku kehilangan mood.  Mungkin karena tuntutan kuliah yang juga tak bisa menunggu membuatku gag bisa fokus pada apa yang aku kerjakan. Semua jadi berabtakan. Pekerjaan memang tidak bisa menunggu mood. Pekerjaan ya harus dilakukan. Masalah tidak akan pernah selesai kalau cuma ada diangan-angan. Gitu kan teorinya? sekarang ayo kita cari kuncinya buat ngebuka MOOD BLOCK akut ini.

Masihkah kau ingat aku teman?

Setiap hari kita bersinggungan dengan teman. Teman adalah semua orang entah sebaya atau lebih tua dan lebih muda yang kita temui setiap hari? Benarkah? Entahlah. Definisi teman pun kadang memudar oleh perspektif yang kita miliki masing-masing. Lalu bagaimanakah kita memaknai perspektif teman itu sendiri dimata kita? Setiap orang punya definisi, cara pandang, dan syaratnya masing-masing. Ya syarat! Syarat yang harus dimiliki oleh orang yang akan kita jadikan dalam golongan teman. Kalau untuk mengatakan teman saja bisa serumit itu lalu apalagi itu sahabat? Apakah kata sahabat harus kita sematkan pada orang-orang yang mempunyai posisi yang lebih spesial dihadapan kita?

Jawaban atas semua pertanyaan itu masih begitu abstrak. Dan inilah cuplikan jawaban polling topic kita hari ini:

*Teman

Pertanyaan yang masih ada dibenakku adalah, apakah teman itu juga ada masanya? Teman sosok yang mengisi hari kita, namun kita tak bisa  selalu memilikinya

Sahabat

Cerminan dadi diri kita, karena kesamaan yang sama-sama kita miliki

-SY-

*Arti teman bagiku kadang bisa menemani saat sendiri, membantu saat ada masalah, teman dimataku kadang bisa meleihi pacar dalam hal kepentingan, tapi itu tinggal kitanya saja bisa profesional apa tidak, sahabat bagiku tentunya lebih spesial dari teman walaupun hampir sama maknanya. Kata sahabat lebih mengenal dekat banget dari pada teman, kadang orang ditanya itu siapa jawabnya rata-rata hanya sekedar teman. Didengarpun lebih dominan sahabat dari pada teman kalau ngomong soal kedekatan

-AJ-

*Teman mudah untuk mencarinya…kenalan bisa langsung jadi teman…tapi sahabat itu susah banget mencarinya…dia spesial…bisa dipercaya…dia akan selalu ada saat sahabatnya membutuhkannya…

Sahabat

Kata sederhana yang tak mudah ditemukan dalam kenyataaannya, tak semua yang dekat berlabel kannya… ada kerinduan untuk selalu dapat bertemu denga sosok sepertinya

Pernahkah kau temukan seseorang yang senantiasa setia  disisimu kalau kau jatuh dan hilang asa?, pernahkah kau dapati sesosok makhluk yang selalu tahan mendengar kisahmu kala angin membawa berita-berita busuk tentangmu?. Pernahkah kau tangkap butiran air mata yang disembunyika sehabis doa panjang yang pada-Nya diselipkan namamu?

Dialah saabat sejatimu…

-AD-

Semua bersyarat dan semua tidak ada yang sejati dan abadi. Itu kabar buruknya. Mungkin dalam hal bertemanpun begitu. Mau bagaimana lagi, kegiatan sudah berbeda, kebutuhan sudah berbeda, sampai pemikiranpun juga sudah berbeda. Antara teman dan sahabatpun kadang akan mengalami saat-saat dimana kita adalah sama-sama orang lain yang tak saling kenal. Mau menghubungi dulu takut repot, mau tanya, tanya apa?, mau ketemu bahas apa?, sampai mau main duitnya siapa? Hahaha…

Kita akan bilang ya, bila kita sepemikiran, setujuan, seperjuangan, tak banyak kesibukan,dan syarat-syarat lain yang diajukan teman kita atau kita sendiri yang menuliskannya dalam catatan kehiduan kita. Maka celakalah orang-orang yang punya banyak teman tapi tidak bisa memaknai dan memanfaatkan keberadaannya.

Kata bijaknya adalah mungkin kita tidak bisa menemukan sahabat dan teman sejati tapi kita bisa mencoba memberikan sedikit ruang waktu, hati dan pikiran kita untuk sekedar mengingat orang-orang didekat kita. Karena semakin kita diam atas pertanyaan dan ketakutan kita untuk mencoba menyapa, itu akan menambah daftar syarat untuk kita bisa dekat dengan teman ataupun sahabat kita. Walaupun kadang mereka membuang muka atas keberadaan kita.

Bilapun tak ada teman semoga tak ada musuh yang datang dari teman. Selamat untuk kamu yang telah menjadi teman yang baik dan mendapat teman yang baik pula. Thanks for your love and care, friends! Need Lot of apologies for my entire fucking jerk. World never be colorful without you by my side. :)

Kita, WHAT?

Dan kita inilah potret KAMPRET masa depan

Oh bukan. Bukan kita, tapi aku! Ya Aku. Aku kan kampret yang selalu merusuhi having fun kamu. No no no! Bukan having fun tapi having stuff yang bikin kamu jerit jerit kayak gini

‘kalau aku sibuk urusan cinta, kalau aku sibuk urusan kerja, kalau aku sibuk urusan belajar, kalau aku sibuk urusan bla…bla…bla…TOLONG ! jangan cari aku, karena mataku lagi bintitan, telingaku lagi –curekan-, hidungku lagi radang.

So, aku nggak bisa ngeliat kamu lagi celingukan, nggak bisa denger kamu lagi panggil-panggil aku snewon, dan ngendus bau badanmu karena keringetan kelamaan nunggu aku. Aku masih sibuk bradah! Sista!

Kita ini PREND

What? Tunggu dulu! Nggak bisa menghakimi begitu dong!

‘kalau aku untung, kamu untung, aku longgar, kita prend!

Kalau aku untung, kamu buntung, aku longgar, mmmm…kita masih bisa prend!

Kalau aku nggak untung, aku nggak longgar… pikir-pikir lagi dehhh!’

Apakah kita mulai sepicik inikah menanggapi sekelumit urusan yang bukan buat aku, bukan buat kamu, atau dia dan mereka. Lalu buat siapa?

LALU KITA INI APA?

 

Aku masih premature ngemong emosi yang masih bau ABG mencakar-cakar otak dan setelan mukaku.Cuma untuk nunggu kamu bilang Oke! Iya! Siap! Atau TIDAK!